UBAH NILAI ANDA

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png

Sudah ratusan kali dari ratusan pertemuan yang saya hadiri, saya mendengar pertanyaan,”Anda ingin sukses? Anda ingin kaya?”, dari presenter, Trainer dsb. Pertanyaan klasik jawabannya juga klasik. Pasti disambut dengan koor ”Ingiiiiin....!!” Kadang-kadang pertanyaan itu dilanjutkan lebih menukik,”Anda yakin sukses?”. Jawaban koor masih terdengar, ”Yakiiin...!!, ”tapi kali ini ada beberapa suara yang hilang. Mungkin tidak yakin atau kurang antusias. Kalau pertanyaan ini diajukan lebih dalam lagi,”Apakah Anda berani membayar harganya?”, jawaban setengah koor dengan nada yang lebih rendah pun menyambut,’ Beraniiii...!! Kontradiksi biasanya terjadi disini, ada yang berteriak lantang ada pula yang sayup-sayup nyaris tak terdengar. Sayang tidak pernah ada pertanyaan yang lebih dalam dari itu. Tetapi dari tiga pertanyaan dengan derajat konsekuensi yang semain berat tersebut kita bisa melihat, semakin berat tantangan semakin teruji apakah seseorang benar-benar ingin dan yakin? Saya yakin, jika ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam, pasti yang berani menjawab makin sedikit bahkan jika terus digali lebih dalam mungkin tidak ada yang berani menjawab.
Karena ingin menggali lebih dalam apakah seseorang memiliki keyakinan, saya mencoba bertanya ke leader-leader di beberapa home sharing. Saya memulai dengan pertanyaan sama,”Apakah Anda yakin sukses dan kaya?. Anda pasti tahu jawabannya khan. Saya lanjutkan dengan pertanyaan,”Siapa yang pernah melihat orang kaya berperilaku menyebalkan?”. Mudah ditebak, semuanya menjawab ”Pernah”. Saya lanjutkan lagi,” Siapa yang pernah saat melihat itu mengatakan ’mentang-mentang kaya sombong’?”. Ternyata jawabannya sama, semuanya pernah. Untuk merechek keyakinan mereka, saya ulangi pertanyaan dengan contoh lain,”Siapa yang pernah disambar mobil lux lalu mengatakan ’mentang-mentang kaya atau mentang-mentang punya mobil mewah sembarangan aja...”. Alhasil, jawabannya pun sama, semuanya pernah.
Di pertemuan yang lain, saya menanyakan kepada leader-leader,”Siapa yang Anda anggap memiliki keyakinan sukses paling besar disini?” Mereka lalu menunjuk seorang leader yang selalu tampir luar biasa di setiap pertemuan, antusias dan energik kapanpun juga, dan menunjukkan kerja keras yang fokus dan ngotot. Sayapun menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sama seperti diatas. Ternyata,..... sami mawon. Jawabannya nggak ada beda.
Sampai disini bisakah Anda melihat kejanggalannya? Sepertinya semua biasa-biasa saja. Yah, segala sesuatu nampak biasa-biasa saja jika kita tidak melakukan perbandingan–perbandingan sampai menemukan asosiasi yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan tadi kebetulan baru sempat saya tanyakan kepada jaringan saya yang semuanya kelas menengah ke bawah. Andaikata saja pertanyaan yang sama saya ajukan kepada orang-orang The have, apakah jawabannya sama? Saya yakin tidak. Setidaknya saya pernah bersama orang-orang agak The have, yang mengomentari perilaku orang sekelasnya. Saat mereka disambar mobil sekelasnya misalnya sesama Innova, apa komentar mereka? Salah satunya seperti ini,”Pakai mobil sembarangan, memangnya dibeli pakai daun?”.
Anda lihat bedanya? Respon mereka beragam, tapi dapat dipastikan mereka tidak mengaitkan dengan kekayaan karena mereka satu kelas. Sebagai sesama satu kelas mereka tahu, tidak semuanya sombong dan pakai mobil sembarangan, minimal diri mereka sendiri. Tapi mereka juga bisa jadi berkomentar sama dengan orang miskin yang tidak memiliki mobil, jika Innova mereka disambar Phorsche seharga Rp. 1,5 M. Karena kalah kelas, mereka pun mengasosiasikan kekayaan dengan kesombongan. Mari kita berandai-andai lebih jauh. Jika pemilik mobil Ferrari sport seharga Rp 5 M, tiba-tiba disambar oleh Phorsche tadi, apakah pemilik Ferrari akan mengatakan,”Mentang-mentang orang kaya.....” ?” Tidak mungkin khan. Dalam pikiran bawah sadar secara reflek mereka berkata,”Saya yang lebih kaya saja tidak sembarangan pakai mobil”.
Ternyata nilai-nilai kekayaan berkorelasi positif dengan kelas sosial. Nilai kekayaan menjadi negatif hanya terjadi jika seseorang yang lebih miskin menilai yang lebih kaya. Kalau begitu manakah yang lebih tepat, apakah kekayaan yang bersifat negatif? Ataukah negatif terhadap kekayaan sebetulnya hanyalah perwujudan rasa iri bahkan dengki? Waktu saya SMA, ada istilah gaul STTM, apa itu? Sirik Tanda Tak Mampu. Rasanya STTM ini tepat untuk saat ini. Hati-hati, apakah Anda termasuk STTM?
Karena itu saya biasanya melanjutkan dengan pertanyaan,”Siapa yang pernah melihat orang miskin menyebalkan? Mana yang lebih banyak sombong, orang miskin atau orang kaya?”. Jelas orang miskin, lha wong orang kaya jumlahnya sedikit. Saya juga menambahkan pertanyaan,”Siapa yang pernah disambar motor ceketer yang mengeluarkan asap tebal?” Mungkin Anda sepakat, semuanya menjawab ”ya”. Satu pertanyaan lagi,”Lebih sering mana, disambar ceketer atau mobil lux?”
Artinya apa? Orang kaya sombong ada, orang miskin sombong ada. Orang kaya menyebalkan ada, orang miskin menyebalkan juga ada. Mobil mewah asal nyambar ada, motor ceketer main sambar juga ada. Kesimpulannya sombong, menyebalkan, main sambar dan bentuk-bentuk lainnya tidak memiliki korelasi dengan kekayaan atau kemiskinan. Orang sombong, ya dasar sombong aja. Jadi orang miskin sombong, jadi kaya juga sombong. Ada juga orang yang miskin baik dan setelah kaya tetap juga baik. Pertanyaannya, mengapa kita seringkali mengasosiasikan kekayaan dengan nilai-nilai yang tidak baik?

Sejak dilahirkan, kita secara sadar atau tidak, menginternalisasi nilai-nilai sosial di lingkungan kita. Celakanya, selalu ada nilai-nilai tidak benar tetapi menjadi dominan sehingga diyakini kebenarannya. Dan jika berhubungan dengan kekayaan, banyak sekali nilai-nilai kelas menengah kebawah yang negatif. Di kampung saya, beberapa orang kaya dihubungkan dengan tuyul atau pesugihan. Sebagian lagi diidentifikasi tidak ’gaul’ alias sombong. Tentu saja, orang kaya tersebut punya nilai lain yang sama benarnya, yaitu produktivitas. Kalau waktu yang ada bisa dimanfaatkan secara produktif, ngapain kumpul-kumpul yang tidak jelas pembicaraannya?
Sayangnya nilai-nilai tersebut di era modern justeru malah direproduksi secara masal melalui media masa. Lihatlah sinetron yang begitu banyak menyedot perhatian pemirsa, sangat banyak sinetron yang mengisahkan orang kaya menzalimi orang miskin, atau kisah-kisah orang kaya yang berhubungan dengan kekuatan mistik. Liputan-liputan tentang selebritis juga banyak mengekspose bagian-bagian hidup yang negatif seperti konflik rumah tangga, selingkuh, kekerasan, gugat-menggugat dsb. Demikian juga liputan tentang tokoh-tokoh negeri yang tak jauh beda. Korupsi, selingkuh, merampas hak rakyat dan sebagainya.
Liputan seperti ini tidak salah bahkan sebagian juga dibutuhkan, tetapi sayangnya tidak proporsional dengan sosialisasi nilai-nilai positif. Sedikit sekali tayangan TV yang menyorot profil sukses dan mengupas detail bagaimana perjuangan mereka menuju sukses. Alasannya simple, rating..!! Rating acara TV, menunjukkan nilai-nilai masyarakat yang dominan. Sebagai organisasi bisnis yang hanya peduli profit, TV lebih mementingkan memenuhi selera rendah masyarakat dibanding menjalankan fungsi edukatif. Jadilah lingkaran setan. Semakin TV melayani kebutuhan ’selera rendah’, semakin terjun ’selera rendah’ masyarakat, akibatnya semakin banyak TV memproduksi tayangan-tayangan tersebut. Begitu seterusnya.
Pengulangan yang terus berulang sampai dewasa, membuat nilai-nilai tersebut melekat demikian kuat di pikiran bawah sadar dan muncul sewaktu-waktu tanpa kita menyadarinya. Nah, lalu apa hubungannya dengan keyakinan untuk sukses dan kaya? Sekarang bayangkan, pikiran Anda adalah orang lain yang ada di depan Anda, lalu katakan kepadanya,”Hai pikiran, tahukah kamu bahwa kekayaan itu penyebab banyak hal-hal buruk, kekayaan itu membuat orang sombong, kekayaan membuat toleransi rendah, kekayaan membuat sekat sosial lebih tebal.” Selama 20 tahun lebih katakan berulang-ulang kepadanya setiap hari. Kemudian suatu hari katakan kepadanya,”Hai pikiran, saya ingin kaya, saya ingin sukses. Bantu saya untuk mengejar kekayaan itu. Saya akan menggunakannya untuk tujuan-tujuan mulia dalam hidup saya”.
Menurut Anda apa yang akan dilakukan pikiran? Terang aja pikiran jadi bingung. ”Dari dulu saya diberitahu bahwa kekayaan itu penyebab kejahatan kok mendadak sekarang diminta membantu kaya untuk melakukan hal-hal mulia? Ah, mungkin main-main ini, biarin aja”. Hal itulah yang terjadi di pikiran Anda dan juga saya. Hari ini begitu banyak leader memiliki keyakinan untuk sukses dan kaya. Dan jika mereka ditanya, apakah kaya itu penting? Pasti mereka menjawab sangat-sangat penting. Jika ditanyakan apakah kaya itu baik? Jawaban mereka juga pasti positif. Tetapi kenyataannya pikiran sadar dan pikiran bawah sadar mereka tidak kongruen. Dan jangan terkejut dan kecewa, menurut teori pikiran, jika pikiran sadar dan pikiran bawah sadar bertentangan maka pikiran bawah sadarlah yang akan menang. Dengan kata lain, jika pikiran bawah sadar kita meyakini bahwa kaya itu jahat, pikiran kita akan bekerja membantu kita menjauhi kekayaan, alias tetap miskin..!!
Transformasi Nilai
Nilai-nilai terhadap kekayaan yang negatif ini tertanam begitu dalam dan kuat, kita tidak bisa membiarkannya hilang dengan sendirinya. Untuk menonaktifkan nilai-nilai ini, kita bisa melakukannya dengan berusaha menggali lebih banyak lagi nilai-nilai tersembunyi yang mengaitkan kekayaan dengan kejahatan. Untuk menyadari nilai-nilai ini tidaklah mudah dan bisa dilakukan seketika. Seringkali kita baru menyadarinya saat kita merespon peristiwa tertentu yang berhubungan dengan penilaian terhadap kekayaan. Karena itu, ada baiknya saat menyadari nilai-nilai tersebut muncul, kita harus segera meralat kata-kata dan menggantinya dengan kalimat positif. Langkah selanjutnya agar tidak terulang lagi kita mencatatnya dan segera mencatat keyakinan baru yang positif untuk menggantikannya.
Untuk ilustrasi, bisakah Anda mengganti kopi dalam cangkir dengan susu murni tanpa mengangkat cangkirnya? Misalkan Anda menuangkan susu murni satu cangkir, apa yang Anda lihat? Tepat, cangkir itu berisi kopi susu. Bagaimana kalau 5 gelas susu? Kali ini kopinya tinggal sedikit, tepatnya kita sebut susu kopi. Bagaimana kalau 1 galon susu kita tuangkan? Luar biasa, kali ini Anda sukses. Cangkir itu betul-betul berisi 100% susu murni segar. Hal yang sama juga terjadi dengan pikiran dan kesuksesan Anda. Jika pikiran Anda masih berisi kopi dan Anda baru menuangkan sedikit susu, anda hanya mengalami sedikit kemajuan dalam kekayaan. Jika keinginan Anda menggebu-gebu untuk sukses dan kaya tanpa Anda tambahkan susunya, Anda akan menghadapi begitu banyak hambatan-hambatan menjadi kaya. Karena itu tuangkan setiap hari susu kedalam pikiran Anda.
Untuk menguatkan daftar keyakinan yang baru tersebut, Anda bisa melakukan incantation dan reprogramming secara terus menerus. Incantation adalah mengucapkan ’mantra-mantra’ tertentu dengan emosi yang kuat sambil melakukan gerakan-gerakan misalnya sambil berlari. Sementara reprogramming adalah upaya yang dilakukan secara sistematis untuk menonaktifkan program lama yang tidak mendukung kesuksesan dan mengaktifkan program-program pikiran baru yang mendukung kesuksesan. Untuk memahami kedua hal penting tersebut sebaiknya Anda membaca buku Financial Revoluton (Tung Desem Waringin) dan Becoming a Money Magnet (Adi W Gunawan dan Ariesandi). Untuk membantu secara praktis, saya juga menyarankan Anda memiliki CD Hypnotherapy for Goal Setting, yang dirancang oleh pakar hipnosys terbaik di Indonesia, Romy Rafael

UBAH NILAI ANDA

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test