Sabar… Pasti Ada Hikmah di Balik Setiap Peristiwa!

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png

msa1Oleh: Maria Saumi*

Amerika Serikat mencatat sebuah krisis finansial terburuk. Bank-bank investasi besar bertumbangan. Indeks saham terpuruk hingga ke level terendahnya. Krisis finansial akibat subprime mortgage yang melanda negara itu ternyata turut berimbas ke negara-negara lainnya. Terkena domino effect. Lintas benua. Tidak terkecuali, negara kita Indonesia.

Akibat krisis tersebut, salah satunya menyebabkan peningkatan jumlah pengangguran di seluruh dunia. Banyak tenaga kerja dirumahkan tanpa pandang bulu, dari level pekerja bawah hingga pekerja tingkat CEO. Jangankan para pekerja level rendah dan menengah atas. Bahkan dalam kondisi tersebut, kebangkrutan pun menghantui dan menimpa para owner dan stakeholder. Mau bagaimana lagi?

PHK atau pemutusan hubungan kerja, kejadian itu ternyata juga menimpa adik ipar saya beberapa bulan lalu. Dia bekerja sebagai manajer pemasaran di suatu perusahaan multinasional yang bergerak dibidang alat pendingin. Kurang lebih tujuh tahun lamanya dia telah bekerja di perusahaan tersebut. Dia mendapatkan pula semua hal yang menurut standar tergolong lumayan. Gaji yang didapat layak untuk hidup di Jakarta, fasilitas mobil, asuransi kesehatan keluarga, berkesempatan untuk bepergian hingga ke luar negeri—walaupun dalam rangka urusan bisnis, bukan liburan.

Dia bercerita, target penjualan di Indonesia terbilang cukup bagus, tidak buruk. Tetapi, karena omset di negara lainnya khususnya China merosot tajam, maka secara total omset dunia ikut terimbas, sehingga dikategorikan anjlok, turun tajam. Perusahaan tempat dia bekerja hampir merumahkan seluruh karyawannya. Bagi saya perusahaan tempat dia bekerja masih tergolong pengertian. Masih memberikan sejumlah pesangon kepada para pekerja yang dirumahkan. Dan, dia mau tidak mau, suka tidak suka terkena dampak global tersebut. “Hmm, tetapi masih lumayanlah ada pesangon, agak bisa survive untuk sementara waktu,” pikir saya.

Saya melihat dia telah menghidupi keluarganya dengan cukup memadai. Mendengar kabar nyata yang tidak menggembirakan tersebut cukup membuat keluarga besar saya terhenyak. Termasuk saya. Saya cemas memikirkan dua orang keponakan saya yang masih kecil-kecil itu. Bayangkan saja beberapa minggu setelah kelahiran anaknya yang kedua, dia di-PHK dengan sejumlah uang pesangon, yang jumlahnya sekitar seratus jutaan. Jumlah yang mungkin relatif lumayan. Tetapi, tentu saja kalau tidak diatur dengan baik, akan habis dalam kisaran satu, dua, atau hingga tiga tahun untuk memepertahankan keberlangsungan hidup keluarganya.

Uang sebesar itu dia investasikan dan upayakan di dalam bisnis konveksi kecil-kecilan. Sebagian untuk membayar cicilan kartu kredit dan rumah. Sebagian buat berjaga-jaga untuk beberapa bulan ke depan. Dia tetap terus melakukan usaha dengan melamar kerja dan tetap mencari informasi melalui networking dan sahabatnya. Dia tetap mencari peluang agar dapat terus produktif dan mempertahankan perannya sebagai kepala keluarga.

Usaha dan doanya membuahkan hasil dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Kurang dari tiga bulan, dia sudah mendapatkan pekerjaan barunya di perusahaan lokal. Walaupun perusahaan lokal, gaji dan fasilitas yang didapatnya tidak berbeda jauh dengan sebelumnya. Mendengar kabar ini, saya lalu bersyukur dan menjadi tenang. Alhamdulillah.

Secara personal, kalau saya diperbolehkan menilai adik ipar ini, dia adalah sosok yang lurus. Tidak “neko-neko”. Saya bisa ambil satu contoh, dia tidak pernah me-reimburse ke perusahaannya tiket tol dan bensin mobilnya yang dipakai secara tidak sengaja pada hari libur (padahal bisa saja, karena posisinya). Bahkan, sisa uang saku untuknya dari dinas atau urusan bisnis ke luar negeri pun dikembalikan ke perusahaannya. Bagi saya ini sungguh luar biasa. Saya pun belum tentu dapat melakukannya, walaupun dalam perusahaan saya bekerja memang tidak memungkinkan hal tersebut.

Sebagai sulung dia bertanggung jawab penuh atas ibu bapak dan adik-adiknya di rumah. Terlebih lagi tehadap istri dan anak-anaknya. Pribadinya yang jujur dan menjalankan ibadah dengan baik memandu dirinya menerima keputusan PHK itu dengan sabar, hati yang tabah, dan tetap terus berusaha (Mudah-mudahan pribadi tersebut terus dijaga Tuhan YME untuk stabil seperti itu. Amin).

Hikmah dari kejadian tersebut menyadarkan saya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu. Tuhan selalu memberikan kita cobaan. Dapat kelihatan oleh kita sebagai sesuatu yang baik atau buruk. Tuhan menyuruh kita untuk bersabar atas segala sesuatu. Tetap optimis dalam setiap kondisi kehidupan. Selalu yakin bahwa Tuhan selalu sayang sama kita, makhluk-Nya. Bila kita terus berdoa dan berupaya, Tuhan akan selalu mendengarkan doa kita. Seperti firman-Nya: “Aku selalu berdasarkan atas prasangka hamba-Ku.

Tuhan Mahatahu yang terbaik untuk hamba-Nya. Dalam kejadian adik ipar saya itu, Tuhan telah berkehendak. Tuhan telah “memaksanya” dan “memberkatinya” memasuki dunia kewirausahaan tanpa bersusah payah mengumpulkan modal usaha terlebih dahulu. Umumnya, orang-orang bertahun-tahun dan sedikit-sedikit mengumpulkan uang sebagai modal usaha. Dia dengan mudahnya seperti mendapat uang kaget yang menjelma dalam bentuk uang pesangon.

Tidak hanya itu, Tuhan juga memberi “modal” akan hikmah dari suatu kejadian. Kejadian atau cobaan tersebut yang direspon dengan sabar, tidak berkeluh kesah, dan frustrasi. Hikmah terdalam yang tentunya akan diperoleh seorang manusia apabila hamba-Nya itu bersabar, berusaha, dan berdoa kepada-Nya.

Jadi, saya berharap dan berkeyakinan, mudah-mudahan kita selalu menjadi makhluk yang tidak lupa bersyukur. Bersyukur dan yakin bahwa kita selalu akan dipelihara dan diperhatikan oleh Sang Khaliq. Sang Pencipta kita, seluruh alam raya dan isinya. Sudah sepatutnya kita sadar serta merendahkan diri kepada-Nya. Amin.[msa]

* Maria Saumi lahir di Jakarta, 27 Agustus 1976 dengan nama lengkap Mariatun Meima Saumi. Lulusan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, tahun 2000 ini bekerja sebagai praktisi di bidang investasi, spesialisasi future trading investment di sebuah perusahaan investasi berjangka di kawasan Sudirman, Jakarta. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: mariasaumi [at]yahoo[dot]com.

Sabar… Pasti Ada Hikmah di Balik Setiap Peristiwa!

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test