Menjadi Istri Orang Kaya atau Menjadi Orang Kaya?

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png

Iftida YasarOleh: Iftida Yasar*

Dulu, bahkan mungkin sekarang, masih dilakukan oleh ibu atau orang tua kita; mendoakan, mengarahkan, bahkan memaksa anak perempuannya untuk kawin dengan orang kaya. Banyak cara dilakukan oleh orang tua, mulai dari mencekoki pemikiran betapa enaknya menjadi istri orang kaya, memfasilitasi dengan perawatan tubuh dan pakaian yang bagus, sampai mencarikan jodoh orang kaya.

Ada kenalan saya yang dari kecil ibunya selalu berusaha membelikan pakaian bagus dengan segala cara (terutama kalau ada pesta) untuk anak perempuannya, walaupun untuk makan sehari-hari termasuk sederhana. Dalam urusan jodoh ibunya yang sangat berperan memutuskan mencarikan suami dari kalangan orang kaya. Sehingga, dia harus patah hati berpisah dengan kekasih pujaan hati yang bukan masuk dalam golongan orang kaya.

Ada juga istri seorang teman yang dari kecil berasal dari keluarga kaya dan tidak pernah merasakan susahnya hidup. Segala fasilitas harus nomor satu. Kalau menginap di hotel haruslah minimal bintang empat dengan kamar suite. Pergaulannya selalu dengan para selebriti dan kalangan atas, begitu juga baju, tas, dan sepatu selalu merek terkenal. Untunglah, teman saya termasuk profesional yang dapat memenuhi keinginan istrinya tercinta. Walau dia pernah—dalam beberapa kali kesempatan—cerita betapa beratnya memenuhi gaya hidup istri tercinta. Karena sebetulnya, ia termasuk orang yang cukup sederhana. Berapa pun penghasilan yang dia dapatkan selalu habis karena rumah tangganya masuk dalam golongan “high salary and high class life style”. Pada saat gajinya berjumlah tiga kali lipat dari saya, teman tadi sudah mengeluh karena istrinya merasa gajinya kecil sekali. Kita doakan semoga teman tadi tetap mendapatkan posisi yang baik dengan gaji yang besar.

Hal lain yang bisa kita lakukan sebagai perempuan untuk mendapatkan suami kaya adalah berkencan dengan bos kita. Rasanya, kalau dalam lingkungan kantor yang menjadi incaran adalah the real boss, setidaknya orang nomor dua atau nomor tiga. Kalau yang umurnya sebaya atau beda dua sampai lima tahun rasanya masih bukan target utama, sebab kurang kaya. Maka, dimulailah segala cara untuk menggaet si bos agar tergoda oleh kita.

Bagaimana dengan status bos sebagai suami orang? Emang gue pikirin? Namanya juga usaha, ngapain juga menunggu pacar yang sebaya yang belum tentu jadi orang kaya? Lebih baik the real boss yang sudah di depan mata. Begitu banyak kasus kehancuran rumah tangga yang diakibatkan karena para suami yang bos dipikat dan diikat dengan segala cara sehingga meninggalkan keluarganya.

Cerita di atas menggambarkan betapa tidak percaya dirinya perempuan dalam menjadikan dirinya kaya atas usahanya sendiri. Kenapa ia harus menggantungkan hidupnya pada orang lain untuk memenuhi keinginannya? Perempuan secara tradisional diajarkan untuk tidak mempunyai keinginan bagi dirinya sendiri. Ia diciptakan dan dipersiapkan untuk melakukan tugasnya secara tradisional, seperti menjadi istri dan menjadi ibu. Jika ada perempuan berhasil menjadi orang kaya, biasanya pertanyaan yang timbul adalah: Siapa suaminya? Anak siapa? Pemikiran pertama masyarakat adalah pasti ia menjalankan usaha keluarga atau hanya membantu suaminya. Perempuan jarang langsung diakui sebagai orang yang berada di balik keberhasilannya sendiri menjadi orang kaya.

Bagi perempuan sebetulnya penting sekali menjadi orang kaya, bukan istri orang kaya atau simpanan orang kaya. Perempuan mempunyai banyak keinginan yang kadang kala susah diterjemahkan dengan akal sehat, kenapa ia menginginkan barang atau hal tersebut. Tidak heran perempuan selalu menjadi objek yang mudah bagi segala macam produk barang dan jasa yang mencoba memenuhi beragam keinginannya tersebut. Jika ia menjadi kaya hasil dari usahanya maka ia akan dengan mudah mewujudkannya tanpa harus menunggu persetujuan dari suaminya.

Dalam kasus yang ekstrim perempuan harus bertanggung jawab atas anak yang dilahirkannya jika suami meninggal atau meninggalkannya karena perempuan lain. Jika ia memiliki kemampuan mandiri maka kelangsungan hidupnya yang terbiasa enak akan terus terjamin. Lain halnya jika ia tidak punya kemampuan mengelola keuangan dengan baik, bisa jadi harta yang banyak pun, hasil peninggalan suaminya akan habis dengan cepat karena tidak bisa dia kelola.

Jadi, kita sebagai perempuan, ubah pemikiran yang ingin kaya dan enak dengan mempunyai suami kaya. Kalau itu bisa terwujud, nasib baik bagi yang mendapatkannya. Tetapi jika tidak beruntung, daripada frustasi mulailah berusaha menjadi kaya dengan usaha sendiri.[iy]

* Iftida Yasar lahir pada 28 Maret 1962. Ia meraih gelar Sarjana Psikologi Pendidikan dan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran tahun 1980. Dan meraih gelar S-2 Psikologi di Universitas Indonesia tahun 1992. Iftida Yasar adalah seorang konsultan SDM, hubungan industrial, dan outsourcing. Ia juga seorang entrepreneur, trainer, motivator, aktivis sosial bidang pengembangan SDM, Wakil Sekretaris Umum APINDO, dan Penasihat Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI). Iftida juag dikenal sebagai pribadi yang sangat aktif, suka tantangan, senang bertemu dengan orang-orang baru, membangun jejaring, membangun kompetensi SDM, bepergian, dan baca buku. Ia adalah penggemar berat Kho Ping Hoo, Winnetou, Mushashi, Sinchan, dan Andrea Hirata. Iftida dapat dihubungi di nomor: 0811896944 atau pos-el: iftidayasar[at]yahoo[dot]com.

Menjadi Istri Orang Kaya atau Menjadi Orang Kaya?

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test