Kisah sukses para perempuan di bisnis jaringan Tianshi

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png

Para perempuan yang sukses di bisnis jaringan Tianshi ini terdiri dari berbagai lapisan strata sosial. Ada yang memulainya sejak kuliah, ada yang ibu rumah tangga, single parent, istri pengusaha, bahkan ada yang mantan TKW. Apa resep mereka untuk sukses di dunia MLM tersebut?

Asiya, mantan TKW di hongkong berhasil mendapatkan pemghargaan berupa mobil BMW. Wanita yang tingal di jakarta ini mengaku terharu dan bangga. Semuanya berbaur menjadi satu, sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Asiya, ibu satu anak ini, bekerja dengan tekun mengembangkan jaringannya di Tianshi, dan dalam dua tahun pertama sejak ia bergabung, jaringannya sudah mengembang ke Hongkong, Korea, Indonesia, Taiwan dan Malaysia. Di taksir jumlahnya mencapai 5.000 orang dan kebanyakan juga adalah TKW.

Saya memang sengaja merekrut mereka, karena ingin mengangkat harkat dan martabat mereka”, ujarnya terharu. Ia merasakan getirnya sebagai TKW, lebih-lebih mereka yang bekerja di luar negeri. BMW itu diharapkan menjadi inspirasi bagi para TKW untuk merubah hidup. “Karena di bisnis ini, kesuksesan tidak dilihat dari larat belakang pendidikan,” tegas Asiya.

Diah Safitri, teman sekampung Fei Fei, Yogyakarta, juga tidak mau ketinggalan. Daftar koleksi penghargaannya bertambah lagi. Setelah BMW serie 3, ibu dua anak yang menyandang anak yatim sejak usia 4 tahun ini, merebut kapal pesiar. Diah, adalah perempuan networker terkaya yang dicetak Tianshi untuk kota Pelajar itu. Maklumlah, mobil mewahnya bukan hanya BMW, juga ada Mercedez Benz E 320, Mitsubishi Galant V6 Modifikasi, punya beberapa bidang tanah dan mempunyai stokis yang terbilang mewah, di Jalan Timoho. Dan yang luar biasanya, semuanya berasal dari bonus yang diperolehnya setiap bulan - minus BMW.

Nah, dengan menyabet kapal pesiar, di yakini pundi-pundi kekayaan mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini makin gemuk, padahal peringkatnya masih Silver Lion. Namun, jangan punya anggapan, mereka yang terjun ke Tianshi berasal dari ekonominya kurang mapan. Sebut saja Theresia, istri seorang pengusaha yang juga networker Tianshi. “Wah, saya senang sekali. Apalagi mitra kerja saya, Ida Ayu Ketut Ratmini, mendapat BMW. Jadi, kebahagiaan saya, plus-plus,” ujar perempuan asal Bali ini.

Padahal, kiprahnya di Tianshi, bermula dari produk. Bukan semata-mata karena faktor finansial. “Waktu saya konsumsi, saya merasa cocok,” ujarnya. Karena cocok, ibu empat anak ini bercerita kepada teman-teman dan relasinya. Eh, tak di duga, setelah merasakan hal yang sama, banyak diantaranya yang ikut bergabung. Malah dibulan berikutnya, ia memperoleh bonus. Di sinilah, Theresia yang hanya tamatan SMA, berfikir bahwa bisnis ini begitu mudah untuk dijalankan.

Jadi, hanya menggunakan produk dan cerita, eh dapat bonus,” tambah Theresia yang mengaku belum pernah menggeluti network marketing, kecuali hanya Tianshi. Tapi, ia mengingatkan, cerita bisnis network marketing tak selalu identik dengan uang. Tapi ada hal yang lebih penting, yakni kesehatan dan berkembangnya kepribadian.

Katarina, demikian wanita berkulit putih ini, adalah orang pertama yang meraih BMW untuk propinsi Papua di Tianshi. Kiprahnya di bisnis jeringan ini dimulai beberapa tahun lalu. Diprospek oleh Ulung yang tinggal di Bandung. “Wah, saya senang sekali. Ini bukti, walau saya tinggal di Papua, juga bisa dapat BMW,” ujar katarina.

Jangan kaget pula, dari 13 ribu jaringannya, paling banyak berada di Papua. Mereka tersebar di Papua, Timika, Sorong, Merauke, Biak, Monokwari. Sisanya berada di Jawa Tengah dan Makassar. Ia berharap, BMW yang dierolehnya itu dapat menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lainnya. “Saya pikir, bisnis ini cocok untuk perempuan. Apalagi waktunya yang fleksibel” jelas Katarina.

FERAWATY HARTONO, MEMULAI BISNIS TIANSHI DARI AWAL

Serba kaya tampaknya melekat pada Ferawaty Hartono (Fei Fei). Pertama, perempuan asal Yogyaarta ini merupakan istri kondang Leader di Tianshi, Louis Tendean. Dari 1,2 juta jumlah networker di perusahaan network marketing asal China itu, Louis yang di juluki “Si Bocah Ajaib” merupakan orang pertama yang bertengger di Diamond Gold Lion 3, sekaligus peringkat tertinggi saat ini. Bonusnya perbulan mencapai ratusan juta rupiah. Ia juga menggondol semua penghargaan, dari BMW, Kapal pesiar, dan Villa mewah.

Kedua, Fei Fei - demikian panggilan akrabnya, juga seorang networker perempuan. Walau peringkatnya baru Silver Lion, Fei Fei memiliki jaringan yang tambun, mengantarkannya meraih semua penghargaan Tianshi, seperti BMW, Kapal Pesiar, dan Villa Mewah. Di Tianshi sendiri, selain Fei Fei, menyembul sosok Livia Helen, yang juga meraih empat penghargaan. Cuma, dalam urusan peringkat, Fei Fei tampaknya lebih “senior”.

Ternyata, atribut “kaya” tersebut benar-benar genap saat pasangan itu menginjak empat tahun usia perkawinan. Sebagai hadiah perkawinan, Louis memberikan istrinya sebuah mobil mewah, Mercedez Benz Silk 2000, yang harganya mencapai Rp 1 miliar. Mobil ini di sandingkan dengan BMW seri 6 yang berharga Rp 1,7 miliar. Jika di total, harga kedua mobil itu mencapai Rp 2,7 miliar. Belum lagi BMW seri 3 dan kijang Inova.

Itu baru mobil. Bagaimana dengan rumah? selain punya di beberapa daerah, pasangan inipun sedang menyiapkan rumah baru yang dananya menelan Rp 12 miliar, masih di lokasi Perum Dago Permai. Biaya maket plannya saja, sudah menelan Rp 300 juta.

Padahal, jika dirunut ke belakang, pasangan ini bukan siapa-siapa. Sebelum menekuni Bisnis Tianshi, Louis menggeluti profesi sebagai penjual panci door to door maupun menjajakan melalui berbagai pameran. Pria kelahiran 6 Oktober 1974 ini juga pernah mengalami kegetiran hidup, seluruh rumahnya terbakar hingga melumat harta keluarganya. Sementara istrinya berasal dari keluarga kecukupan, yang tak merasakan pedihnya guratan hidup sang suami.

Di network marketing, pasangan ini bertemu, pacaran, menikah dan menyandang atribut pasangan terkaya dalam dunia network marketing Indonesia. Kisah mereka juga membuktikan bahwa bisnis jaringan adalah “kendaraan” yang termudah dalam merubah hidup. Maklumlah, setelah setelah sekitar 5 tahun berjuang di bisnis ini, pasangan ini menikmati enaknya “uang yang bekerja untuk mereka“, sebuah penghasilan yang hanya dinikmati kalangan tertentu, khususnya para pengusaha atau para konglomerat yang punya ratusan jenis usaha.

KISAH Fei Fei, perempuan sukses di Tianshi.

Sebelum di Tianshi, saya sempat bergabung di sebuah perusahaan network marketing. Itupun karena diajak seorang teman di kampus. Di network marketing itu, saya bertemu dengan Louis Tendean. ketika bertemu, jujur saja, perasaan saya biasa-biasa saja. Namun, setelah dekat, saya menemukan sesuatu yang lain dari dirinya. Pandangannya tentang hidup begitu jauh kedepan, melebihi usianya yang masih muda. Dia menjelaskan perjalanan hidupnya, yang semula menyenangkan, berubah menjadi kegetiran. Rumahnya terbakar di lalap si jago merah, membuat seluruh hartanya ludes, kecuali yang tertinggal hanya pakaian yang melekat di badan.

Sampai-sampai, celana pun dipinjamkan tetangga. Kuliahnya di Universitas Maranatha, Bandung, Jawa Barat, dibiayai sendiri. Saya berfikir, kok ada ya kehidupan seperti itu, sesuatu yang tak pernah terlintas di benak saya. Maklumlah, sebagai anak kedua dari empat bersaudara, saya dibesarkan dari keluarga berkecukupan. Segala kebutuhan kami disiapkan oleh orang tua, termasuk disekolahkan disekolah terbaik di Yogyakarta. Louis pula yang mengajarkan saya banyak tentang hidup. Dia selalu berpesan den mengingatkan, “Jangan sampai seperti saya dulu, baru kamu mau berubah untuk sukses. Lakukan sekarang mumpung kehidupan kamu masih baik“.

Sayangnya, perusahaan itu tutup, membuat kami kapok dengan network marketing. Tapi, kemandirian yang ditularkan oleh Louis, benar-benar membungkus relung hati saya yang paling dalam. Makanya, saya berjualan perhiasan perak di kampus, ataupun mengikuti bazaar-bazaar di kampus. Modalnya berasal dari saya, tidak meminta dari orang tua. Tapi, orang tua saya melarang, takut kuliah saya terganggu. Tugas saya, kata mereka, hanya belajar. Jadi nggak perlu cari duit.

Sementara Louis berjualan panci. Hal Itu dilakukan setahun, 1999 - 2000. Wah, penghasilannya cukup lumayan per bulan. Eh, Januari 2001, saat kita pameran, datang Trisulo menawarkan bisnis Tianshi. Kontan saja saya larang. Maklumlah, di bisnis network marketing, Louis itu selalu gagal. Jadi, saya pikir sayang buang-buang uang lagi. Tapi, entah kenapa, Louis tetap ngotot. Dia minta kita jalan sendiri-sendiri.

Walau melarang, toh saya tetap menemani dalam setiap aktivitas bisnis Tianshi. Ya, namanya pacar. Jadi, pacaran kami dari satu presentasi ke presentasi lain. Mesra? Oh, itu jelas sekali, walau terkadang saya mangkel. Sebab, saat awal membagun jaringan, prospeknya yang diundang ke OPP di hotel, hanya 1 - 2 saja yang datang. Bahkan tidak datang sama sekali. Belum lagi setiap hari kerjanya menelpon. itu khan semua butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi Louis tetap ngotot, ia benar-benar tidak maun mundur.

Ternyata, kegigihannya tidak sia-sia. Setelah enam bulan berjuang, pelan tapi pasti, jaringannya mulai terbentuk. Bonusnya sudah mencapai jutaan. Disinilah saya baru melek, serius menekuni bisnis Tianshi, tepatnya Agustus 2001 lalu. Apalagi buku-buku Robert T Kiyosaki bermunculan, membuat wawasan saya jadi bertambah. Saya benar-benar tidak ingin ketinggalan kereta, ingin sukses dan kaya di Tianshi. Di sini, Louis berpesan, “Jika kamu ingin sukses, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan”.

Makanya, saya tetap kerja keras membangun jaringan. Di tolak, dilecehkan, di usir hingga saya menangis, menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Jika sudah begitu, ya saya mengadu ke Louis, baik sebagai upline maupun pacar. Dia pun memotivasi, hingga semangat saya tetap terjaga dan bangkit kembali. Hal itulah, menurut saya, jika kita sedang down, sebaiknya bertemu upline ataupun mengikuti pertemuna-pertemuan. Jangan di pendam, apalagi berkeluh kesah dengan mereka yang pikirannya negatif. Saya yakin, hasilnya akan negatif juga.

Jujur saja, sebagai pacar ataupun istri, saya sedikit diuntungkan. Setidaknya, jika jaringan saya mengadakan sebuah acara besar, saya bisa memintanya untuk hadir. Jika tidak mau, ya saya sedikit memaksa dengan wajah cemberut. Tapi, ingat lho, hanya sebatas itu. Lainnya, seperti membangun jaringan, saya kerjakan sendiri. Jadi, dalam Team Work, jaringan kita bangun sendiri-sendiri, kecuali hubungan sebagai upline-downline, maupun suami istri. Tapi, ya namanya istri, saya downline yang plus plus dech untuk Louis.

Saya suka uang …

Uang memang bukan segalanya. Tapi, hidup mengajarkan, segala-galanya membutuhkan uang. Makanya kalau ditanya soal uang, wah, pasti saya suka. Sebab, bagi saya uang itu begitu penting. Dengan uang, kita bisa melakukan sesuatu yang kita inginkan. Coba saja bayangkan hidup tanpa uang. Kita hanya bisa menjadi “penonton” saat orang lain membantu sesama, menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi, membantu orang tua dan lain sebagainya.

Karena itu, walaupun segala sesuatunya sudah di sediakan suami, saya masih tetap bekerja. Saya ingin sukses dan tetap ingin jadi orang kaya. Soal inilah yang sering ditanyakan orang, kurang apalagi pada saya? sebab, dengan penghasilan yang dimiliki suami, saya tinggal duduk manis, pergi ke salon atau ke spa memanjakan diri, pergi ke mall untuk shopping dan lain sebagainya.

Tapi, bila santai-santai saja, saya pikir, itu bodoh sekali kalau saya tidak belajar dari suami. Bodoh sekali bila saya tidak bisa mengail ilmunya. Sebab, orang lain saja ingin bertemu, ingin belajar resep keberhasilannya di bisnis ini. Lho kok saya, yang setiap hari ketemu, setiap hari berbicara, melayani dan mengurusinya, kok tidak mau belajar, tidak mau sukses dan kaya. Saya pikir, jika saya santai-santai saja, wah betapa konyolnya saya.

Lagipula, Tuhan mengaruniakan kita talenta, kemampuan berkembang, mengembangkan dan membantu orang lain. Masak sich kita diam saja melihat penderitaan orang lain, tidak memiliki empati dan rasa peduli. Buat saya, salah sekali jika kita tidak jadi siapa-siapa. Justru siapapun kita, entah itu anak orang kaya, ibu rumah tangga, hidup tak sampai disitu saja. Masih banyak yang harus dikembangkan. Semua itu bisa diperoleh dan dilakukan melalui network marketing.

Saya sendiri pernah mengalami pahitnya tidak punya uang. Ketika itu, ada sebuah baju pesta yang bagus, harganya Rp 300 ribu. Karena tidak punya uang, saya hanya bisa mencoba-coba saja, tidak bisa memiliki. Sejak itu, saya katakan kepada suami, suatu saat saya akan berbelanja tanpa melihat harganya. Makanya sekarang, kalau berbelanja, saya langsung beli apa saja yang saya inginkan tanpa melihat harganya. Paling-paling suami tersenyum kecut dan cemberut. Tapi, dia khan tidak bisa marah. Sebab, selain tugas istri bagian “menghabiskan”, juga menghasilkan. Makanya saya tetap senang dan suka duit ….

Obsesi kami banyak …

Jujur saja, lewat network marketing, khususnya Tianshi, finansial kami lebih dari cukup. Kami punya beberapa rumah, mobil BMW baik seri 3 ataupun seri 6,dan Mercedez Benz Silk 2000. Yang terakhir ini merupakan hadiah perkawinan ke-4. Bahkan, kami juga sedang mempersiapkan rumah baru yang biayanya mencapai Rp 12 milyar. Lokasinya tak jauh dari rumah kami, di resort Dago Permai, Bandung, Jawa Barat.

Selain materi, banyak hal lain yang kami peroleh di bisnis jaringan ini. Misalnya pengembangan kepribadian, sesuatu yang tidak saya peroleh di kampus. Bayangkan saja, dulu saya orang yang tidak basa basi, malas bertemu orang, sehingga sering berada dikamar dengan iringan musik. Wah itu, saya betah sekali.

Tapi, setelah mengikuti network marketing, hal-hal tersebut jadi hilang. Mungkin, karena terpaksa, saya harus berubah jika ingin sukses dalam kehidupan. Namun, satu hal yang tak terkira di bisnis ini, saya bisa membahagiakan orang tua, sesuatu yang tak ternilai oleh apapun. Bahkan rasa capek,ditolak, diusir, dilecehkan, sekejap saja hilang saat melihat kebahagiaan mereka.

Sebagai wujud cinta dan rasa syukur, saya membelikan mereka rumah termewah di perumahan mewah Yogyakarta. Saya juga bisa membawa mereka keluar negeri. Jadi, bisnis ini banyak memberikan kesempatan kepada kita untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi orang-orang yang kita cintai.

Tapi, apa yang kami peroleh semua itu, belumlah seberapa dibanding orang-orang kaya lainnya. Lihat saja gedung-gedung menjulang tinggi di Jakarta, mereka yang memiliki ratusan usaha, pesawat terbang dan sebagainya. Semua itu tentu ada yang punya. Makanya kami akan terus bekerja dan bekerja. Alasannya, kami masih punya banyak obsesi.

Lebih-lebih jika menoleh ke jaringan. Mereka itu berasal dari berbagai lapisan. Ada satpam, ada tukang sayur, mahasiswa, sopir, ibu rumah tangga dan sebagainya. Tanpa mereka, kami sadar sepenuhnya, hidup kami tidak akan seperti ini. Louis dan saya, mungkin masih kost di gang gang yang sempit. Makanya, kami akan tetap bekerja dan bekerja, berusaha keras mewujudkan impian mereka. Itu “harga” yang tidak bisa ditawar tawar.

Demi sukses mereka, kami bersama rekan-rekan lainnya mendirikan Unicore, sebuah sekolah bisnis yang memberikan guide untuk kesuksesan. Mereka tinggal meniru dan mempraktekkannya. Bahkan, Unicore akan memberikan promo award bagi mereka yang memenuhi ketentuan. Unicore akan mengirimkan sedikitnya 80 orang untuk pergi ke Eropa. Jadi, apa yang diperoleh Unicore, akan dikembalikan lagi kepaa mereka.

Kami yakin, jika mereka antusias, berfikiran positif dan tidak berhanti ditengah jalan, apa yang mereka dambakan akan diperoleh lewat bisnis ini. Dulu saja, saya kurang begitu yakin terhadap bisnis ini. Maklumlah, saya tipikal yang tidak mudah percaya. Segala sesuatunya harus rasional, ada bukti empiris dan sebagainya. Tapi, seiring perjalanan waktu, ternyata apa yang digembar-gemborkan Robert T. Kiyosaki banyak benarnya. Buktinya, saya dan Louis merasakan. Jadi kalau kami bisa, merekapun pasti bisa, percayalah …

Kisah sukses para perempuan di bisnis jaringan Tianshi

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test