Jangan Pernah Lari dari Tantangan!

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png

sgOleh: Sulmin Gumiri*

Perkenalan saya dengan Edy Zaqeus baru satu bulan. Meskipun perkenalan kami baru seumur jagung, yang dimulai pada saat saya kesasar ikut workshopCara Gampang Menulis Buku Bestseller di Jakarta, Desember 2008 lalu, saya merasa Mas Edy memang luar biasa. Betapa tidak, hanya melalui komunikasi beberapa kaliseputar naskah buku yang belum kelar-kelar juga saya tulistiba-tiba bak petir di siang bolong, dia menawarkan saya untuk menjadi salah satu kolomnis di situs www.andaluarbiasa.com ini.

Mulanya, saya sempat ragu untuk menyampaikan kesanggupan saya, mengingat saya belum pernah sekalipun menulis artikel. Tapi, setelah diprovokasi oleh e-mail Mas Edy yang mengatakan, “Ini sebuah tantangan,” saya pun akhirnya nekat menyanggupi, menjadi kolomnis di situsnya orang-orang luar biasa ini.

Ya, hidup ini memang penuh dengan tantangan. Tanpa tantangan, tak akan pernah ada kemajuan atau kesuksesan. Tantangan kehidupan bahkan sudah dimulai sejak pertama kali kita dilahirkan ke dunia ini. Begitu seorang bayi lahir, ia langsung menghadapi tantangan karena kehilangan sumber asupan makanan, akibat diputusnya tali pusar atau plasenta yang selama ini merupakan jalur satu-satunya untuk menyuplai kebutuhan makanannya yang berasal dari sang ibu. Akibat terputusnya saluran makanan otomatis itu, ia pun mulai merasakan lapar dan haus. SI bayi kemudian mulai menangis dan meronta.

Pada saat itulah, biasanya para suster mulai mengenalkan kepadanya sebuah tantangan, agar ia bisa memfungsikan mulutnya sebagai saluran penyuplai makanan baru yang ada pada dirinya. Karena benar-benar haus dan lapar, si bayi terpaksa membuka mulutnya ketika suster menempel-nempelkan puting dot plastik berisi susu ke bibirnya. Ia pun mulai terbiasa minum susu melalui dot. Setelah terbiasa minum susu melalui dot, si bayi ditantang lagi agar bisa mendapatkan ASI langsung dari ibunya.

Agar si anak mau membuka mulut dan bisa menyusu, sang ibu biasanya menjentik-njentikkan jari telunjuknya supaya si bayi mau membuka mulutnya, dan kemudian langsung menyusu kepada ibunya. Demikianlah, karena tantangan rasa haus dan lapar yang luar biasa, akhirnya si bayi pun mulai terbiasa dengan pola baru, yaitu mendapatkan kebutuhan hidupnya dengan menerima asupan makanan atau minuman melalui mulutnya.

Sekitar 15 tahun yang lalu, saya mengalami pembelajaran yang luar biasa. Di kantor, saya berteman dengan seorang tukang sapu yang usianya jauh lebih tua dari saya. Ia sudah bekeluarga dan sudah dikaruniai seorang putri. Karena tidak mampu menyewa rumah kos, mereka diberi izin untuk tinggal di rumah penjaga di belakang kantor. Saya suka bergaul dengannya karena ia termasuk orang yang ramah, rajin, kerja ikhlas, dan jujur.

Saya juga sangat kasihan kepadanya karena untuk menghidupi keluarganya, ternyata ia hanya dibayar oleh kantor saya sebesar Rp 25.000 saja setiap bulannya. Biasanya, untuk sekadar menambah penghasilannya, ia tidak segan-segan menawarkan diri kepada para karyawan kalau-kalau ada yang bisa dikerjakannya di luar jam kerja, entah di kantor atau di rumah karyawan tersebut. Sayangnya, meskipun ia sudah memelas ke sana kemari, hanya satu dua orang karyawan saja yang kadang-kadang peduli dan mau memanfaatkan tenaganya.

Suatu hari, ia mengeluhkan kepada saya tentang teguran keras pimpinan kantor yang mewajibkan dirinya untuk datang lebih pagi lagi dari biasanya, berada terus di kantor, dan baru boleh meninggalkan kantor setelah semua karyawan pulang. Kepada saya, ia menyatakan sangat keberatan dengan permintaan pimpinan tersebut. Karena, kalau hanya untuk pekerjaan menyapu dan menutup kantor, mengapa ia harus stand by di kantor dari jam 6.30 pagi sampai jam 2 siang? Seandainya saja ia bisa memanfaatkan sela waktu antara selesai menyapu dan menutup kantor, ia ingin sekali mencari penghasilan tambahan di luar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena iba, saya pun mencoba memberikan solusi kepadanya. “Pak, karena saya juga pegawai kecil, saya tidak bisa membantu Bapak dari segi materi. Tetapi mulai besok, setelah membersihkan ruangan, Bapak boleh bekerja di luar mencari tambahan, asalkan Bapak bisa kembali berada di kantor sebelum jam 2 siang. Jika pimpinan menegur Bapak, biarlah saya yang menjelaskannya,” begitulah kira-kira tantangan saya kepadanya.

Akhirnya, melalui seorang kenalannya ia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai kernet taksi kota yang beroperasi mulai jam 7 sampai jam 12 siang. Setelah beberapa waktu, pernah ia bercerita kepada saya, bahwa meskipun hanya menjadi pembantu sopir, ia bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk menutupi kebutuhan bulanan keluarganya.

Karena kesibukan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, saya benar-benar telah melupakan dan tidak tahu kelanjutan nasib teman saya tersebut. Suatu pagi, tidak lama setelah saya dan keluarga kembali ke Tanah Air, saya kaget sekali. Ketika itu saya ingin membayar makanan di sebuah warung sarapan pagi, yang selalu sesak oleh pengunjung di kota kami. Saat saya menyerahkan uang, pemilik warung mengatakan, “Maaf Pak, makan Bapak sudah dibayar oleh Pak Haji.

Saya bingung, Pak Haji siapa, ya? Apa benar ada orang yang mau-maunya membayar sarapan pagi saya dan keluarga? Kalau ya, mengapa beliau melakukan itu? Saya bingung dan sedikit malu. Lalu, si ibu pemilik warung menunjuk ke deretan belakang pengunjung dan mengatakan, Tuh, dia Pak Hajinya. Saya pun menoleh dan melihat pasangan keluarga yang suaminya melambaikan tangan ke arah saya.

“Apa kabar Pak Sulmin, lama sekali kita tidak bertemu….” Dengan ragu-ragu saya pun mendekat kepada Pak Haji dan Bu Haji di depan saya. Saya hampir tidak percaya, ketika saya tiba-tiba ingat bahwa Pak Haji di depan saya ini adalah teman lama saya, si tukang sapu yang pernah menyampaikan keluhan kesulitan hidup keluarganya, sekitar 10 tahun yang lalu.

Karena sama-sama terharu, kami pun saling berpelukan dan menanyakan keadaan keluarga masing-masing. Pak Haji teman saya itu pun kemudian mengundang saya dan keluarga untuk bertamu ke rumahnya, yang ternyata tidak terlalu jauh dari lokasi tempat tinggal kami saat ini. Singkat cerita, setelah kami bertandang ke rumahnya, dengan suka cita dia menyampaikan terima kasih kepada saya, yang menurutnya telah membantu perubahan kehidupan keluarganya sejak ia menjadi tukang sapu di kantor saya dulu.

Rupanya, setelah kepergian saya ke luar negeri, suatu hari pimpinan kantor saya marah besar kepadanya, karena dia selalu meninggalkan kantor saat jam kerja. Karena saya tidak ada, ia seperti kehilangan tempat curhat di kantor, dan akhirnya nekat minta berhenti. Ia kemudian pindah dan mencari kos murahan di daerah ke pinggiran kota. Selain tetap menjalani profesi sebagai kernet, ia juga berusaha bekerja serabutan, apa saja asal bisa untuk menghidupi anak dan isterinya.

Diam-diam, pemilik taksi kota yang juga pengusaha kayu tempat dia bekerja, merasa kasihan terhadap nasib teman saya tersebut. Pengusaha kayu itu kemudian menawari mereka untuk tinggal di bedengan pangkalan kayu miliknya. Untuk membantu penghasilan sang suami, pemilik pangkalan kayu juga memberikan sedikit modal kepada isteri teman saya tersebut, untuk berjualan makanan kecil sambil melayani para pembeli kayu.

Demikianlah, suami isteri tersebut bekerja siang dan malam membanting tulang untuk mempertahankan kehidupan keluarganya. Karena jujur dan mau kerja keras, kehidupan mereka perlahan-lahan mulai membaik. Pada saat pemilik pangkalan kayu memperluas usahanya, suami isteri tersebut dipercaya mengelola langsung salah satu pangkalan kayu milik majikannya. Lama kelamaan, mereka memiliki pangkalan kayu sendiri, hingga mampu membeli beberapa buah taksi kota.

Di perkumpulan pemilik taksi kota, teman lama say itu pun kemudian dipercaya menjadi ketua Organda. Dan, dengan mewakili Organda, ia kemudian masuk dalam jajaran pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Setelah umroh beberapa kali dan naik haji, ia kemudian diajak mengurus Partai Golkar di kota kami. Saat kami bertandang ke rumahnya, ia sedang mencalonkan diri untuk menjadi Ketua Partai Golkar di daerah kami.

Demikinalah, kehidupan seperti mengalir deras berpihak kepadanya. Saat ini, ia hampir mendapatkan semuanya, mulai harta, kedudukan, dan kemuliaan. Teman lama saya ini mengatakan, bahwa ia benar-benar tidak percaya terhadap perubahan kehidupan keluarganya. Dan untuk itu, ia hanya bisa mengucapkan kepada saya, “Terima kasih atas tantangan yang telah Bapak berikan.

Banyak sekali kisah kehidupan seperti yang dialami teman saya di atas, yang mencerminkan betapa pentingnya sebuah tantangan bagi kemajuan atau kesuksesan seseorang. Saat menulis artikel ini, saya baru saja menyaksikan acara inaugurasi pelantikan Barrack Obama sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat. Upacara pelantikan yang disaksikan langsung oleh sekitar 3 juta manusia di Washington DC, dan disiarkan secara live oleh televisi ke seluruh dunia itu, disebut-sebut sebagai pelantikan yang paling meriah dari semua presiden Amerika yang pernah ada.

Cerita kesuksesan Barrack Obama juga tidak terlepas dari kerasnya tantangan kehidupan yang dijalaninya. Sejak umur 2 tahun ia sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya akibat perceraian ibunya yang asli Amerika dan Bapaknya yang berasal dari Kenya. Sang ibu kemudian meninggalkannya bersama neneknya di Hawaii, karena kawin lagi dengan seorang pria Indonesia yang bernama Lolo Soetoro. Pada umur 6 tahun, barulah ia bisa berkumpul lagi bersama sang ibu dan tinggal bersama ayah tirinya di Jakarta.

Barrak Obama, yang lebih dikenal teman-temannya di Jakarta dengan nama Barry, harus berjuang keras untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup masyarakat kebanyakan di Jakarta. Setelah ia berhasil menyesuaikan diri dengan gaya hidup orang Indonesia, demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik, ia pun kemudian dikirim kembali oleh ibunya ke Hawaii dan diasuh oleh neneknya di sana.

Di masa remajanya, ia sempat frustrasi dan mengonsumsi obat-obat terlarang akibat ketidakjelasan identitas diri. Dalam pergaulan sehari-hari, warga negara kulit hitam Amerika tidak mau menerima Obama sepenuhnya, karena ia kurang hitam untuk komunitas negro di sana. Sedangkan warga kulit putih juga menjaga jarak dengan dirinya, karena warna gelap kulitnya yang merupakan warisan dari ayahnya yang negro Afrika.

Berbagai tantangan kehidupan dan didikan keras ibu serta neneknya telah menjadikan Obama manusia tangguh. Sehingga akhirnya, ia berkibar di perpolitikan Amerika di usianya yang masih sangat muda. Puncaknya, di usianya yang baru menginjak 47 tahun, ia akhirnya berhasil mematahkan mitos bangsa Amerika, yaitu dengan menjadi presiden kulit hitam pertama di negara adidaya tersebut.

Ada beberapa pembelajaran yang bisa kita ambil dari contoh-contoh kisah di atas. Pertama, tantangan dalam kehidupan bentuknya bermacam-macam. Ada tantangan karena ketidakberdayaan, seperti bayi yang baru lahir di atas, tantangan kemiskinan seperti yang dialami oleh mantan teman kantor saya, atau juga tantangan prahara keluarga dan perbedaan warna kulit seperti yang terjadi pada Barrack Obama.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap orang memiliki tantangan sendiri-sendiri seperti cacat fisik, tidak berpendidikan, tidak tinggal di kota besar, tidak bisa bahasa Inggris, tidak bisa berdagang, terlalu muda, terlalu tua, tidak bisa pidato, tidak bisa menulis, dan sebagainya. Hampir tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak memiliki tantangan.

Kedua, tantangan, kesulitan, atau kendala bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dalam kehidupan. Justru dengan adanya tantangan maka kita semakin dekat kepada suatu kesuksesan. Di balik kulit durian yang berduri tajam terdapat daging buah yang enak dan lezat. Dan, di dalam kulit kerang yang keras dan kasar, terdapat mutiara yang indah berkilau. Layang-layang tidak akan pernah bisa terbang tinggi kalau tidak ada angin kencang yang menerjangnya.

Ketiga, akan selalu ada orang yang membantu kita dalam menghadapi setiap tantangan. Apakah ia suster atau ibu yang membimbing seorang bayi untuk mulai memfungsikan mulutnya, Pak Haji pemilik pangkalan kayu yang membimbing teman tukang sapu saya menjadi pengusaha sukses, atau sang ibu dan nenek yang berhasil menjadikan Obama sebagai pria yang tangguh, sehingga bisa menjadi presiden kulit hitam pertama Amerika.

Pokoknya, selalu ada jalan keluar dari setiap tantangan yang kita hadapi. Dalam agama Islam dikatakan: “Tuhan tidak akan pernah memberikan suatu ujian di luar batas kemampuan manusia untuk mengatasi ujian tersebut.

Karena kita semua tidak mungkin bisa lari dari tantangan, tinggal terserah kita bagaimana menyikapi setiap tantangan tersebut. Kita bisa memanfaatkan setiap tantangan untuk mengeluarkan potensi-potensi yang terpendam dalam diri kita, demi menggapai kesuksesan. Atau, kita justu membiarkan tantangan tersebut menjadi belenggu yang mematikan daya kreativitas dan daya cipta yang kita miliki.[sg]

* Sulmin Gumiri adalah seorang pendidik dan peneliti di Universitas Palangka Raya. Peraih predikat dosen terbaik di kampusnya tahun 2006 ini memperoleh gelar MSc. dari Nottingham University, Inggris dan gelar PhD dari Hokkaido University, Jepang. Pria disiplin dan pekerja keras ini memiliki hobi membaca buku, gardening dan bermain tenis. Baru-baru ini ia mulai menapaki hobi barunya sebagai penulis buku-buku populer. Sulmin dapat dihubungi melalui email: sulmin[at]upr.ac.id atau sulmingumiri [at]yahoo[dot]com.

Jangan Pernah Lari dari Tantangan!

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test