Akan Jenuhkah Bisnis MLM?

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png
Seorang teman wartawan asal Medan beberapa tahun yang lalu menyatakan pada saya bahwa beberapa dekade mendatang bisnis MLM akan jenuh. Alasannya, mengikuti deret ukur kedistributoran yang sering digembar-gemborkan kalangan pebisnis MLM, maka dunia ini akan penuh sesak dengan kehadiran distributor MLM baru. Tak akan ada lagi orang yang bisa direkrut, analisisnya. Nah, lo! Anda sering gembar-gembor tanpa argumentasi kuatkah? Jika iya, supaya tidak keteteran, sebaiknya mulai sekarang Anda cari argumentasi-argumentasi yang bagus, siap-siap kalau sekali waktu ada yang mengkritisi Anda atas gembar-gembor itu. Atau, lebih baik, carilah teknik marketing lainnya yang lebih efektif.

Bagi saya, kalau kita menghitung dari teknik deret ukur, maka tentu analisis teman saya ini akan bisa terwujud. Namun, kenyataannya hasil deret ukur ini tidak tercipta-tercipta juga, walaupun dalam kondisi tertentu memang ada yang mampu mewujudkannya. Namun, itu tidaklah terjadi terus menerus. Yang lebih sering terjadi, justru di atas 50% dari hasil rekrutmen seorang distributor MLM tidaklah berjalan baik (artinya: berhenti menjadi distributor MLM), baik pada kesempatan pertama dari keanggotaannya sebagai distributor MLM, maupun seiring dengan berjalannya waktu. Nah, berbalik dengan hasil gembor-gembor deret ukur yang memang memungkinkan terjadinya kejenuhan.

Pada realitanya justru bisnis ini masih jauh dari kejenuhan.Jangankan di Indonesia yang bisnis MLM-nya baru berjalan seldtar 20 tahun, temyata di Malaysia yang sudah berjalan lebih dari tiga puluh tahun, bahkan AS yang sudah lebih lima puluh tahun, bisnis MLM masih terus berkembang hingga saat ini.

Menurut saya, masih belum terlalu banyak anggota masyarakat Indonesia yang telah menjadi pebisnis MLM. Hitungan kasar, di Indonesia, distributor MLM berkisar 2-3% (5 - 7,5 juta orang) dari seluruh penduduknya. Itupun mungkin datanya tidaklah riil (dalam arti angka-angkanya bisa saja di-mark up supaya kelihatan besar), sehingga data riilnya bisa jadi di bawah 1% (2,5 juta orang) dari seluruh pen-duduk Indonesia.

***

Dalam konteks jumlah pebisnis MLM yang masih kecil ini bisa dimengerti jika bisnis MLM-nya terus berkembang. Perkembangan-nya bisa dilihat dari munculnya terus perusahaan MLM baru dan juga dari terus berkembangnya keanggotaan distributor MLM di sebuah perusahaan.

Oleh karenanya, jika Anda sebagai pebisnis MLM sering gagal merekrut, karena calon anggota jaringan Anda khawatir tidak bisa merekrut anggota baru lagi. Sebenarnya Anda bisa menyampaikan bahwa sekitar 99% penduduk Indonesia belum menjadi distributor MLM. Dan, jika angka ini dianggap bukanlah angka logis karena beragamnya varian umur dari seluruh penduduk Indonesia, maka rajin-rajinlah mengkliping koran tentang berita penggangguran.

Berdasarkan data terakhir dari BPS (Badan Pusat Statistik) yang dirilis awal Juni 2006, pengangguran terbuka di Indonesia ialah 11,1 juta orang. Nah, jika jumlah riil pelaku bisnis MLM Indonesia ialah 2,5 juta orang, waah., lebih dari 4 kali lipat orang dari jumlah distributor MLM Indonesia saat ini yang sedang menunggu untuk dibukakan mata akan dahsyatnya karir sebagai pebisnis MLM. Itu pun juga adalah angka pengangguran terbuka. Bagaimana dengan kalangan lainnya yang butuh penghasilan tambahan?

Ada cerita tentang seorang kenalan saya, Pak Yusuf (asal Jakarta, namun punya jaringan bisnis MLM di Jawa Timur) yang tidak mau terus menerus berpusing-pusing dengan asumsi jenuhnya dunia MLM ini. Masalahnya, di perusahaan MLM tempatnya berkarir sebagai distributor, dia diajarkan untuk berpikir kreatif. Maka, ketika orang lain masih ribut dengan perdebatan jenuh-tidaknya bisnis MLM ini, diam-diam justru dia lakukan hal yang tak pernah dipikirkan orang.Dia pun pergi ke Madura, dan dia komunikasikan akan dahsyatnya bisnis MLM yang dia geluti. Hasil-nya? Wow, Madura jadi kenal MLM berkat dia. Atau kalau itu berlebihan, setidaknya Madura jadi kenal perusahaan MLM tempatnya berkarir, berkat dia. Satu-dua orang dan kemudian bertambah lebih banyak orang Madura lagi mulai mendapat penghasilan dan terangkat harkat hidupnya setelah mendaftarkan diri sebagai anggota jaringan bisnis MLM yang digelutinya. Madura yang kata orang susah ditaklukkan, temyata bisa menurut kepada Pak Yusuf. Dan, yang sering dia sampaikan kepada saya, mudah-mudahan Allah SWT. mencatat apa yang dilakukannya dalam upaya ikut serta menyejahterakan orang-orang ini dan dia mengharapkan Allah SWT. mengembalikannya dalam bentuk keberkahan baginya dan keluarga. Sungguh melapangkan dada ya?

***

Bisnis MLM bukanlah bisnis yang bisa dimonopoli orang tertentu saja. Siapapun berhak membuka perusahaan MLM dan siapapun berhak memilih menjadi distributor MLM manapun. Itulah sebabnya, bisnis ini berkembang terus. Perusahaan-perusahaan baru terus bermunculan, baik yang berasal dari dalam mapun luar negeri. Distributor MLM pun bermunculan terus.

Berdasarkan data di atas, saya punya pertanyaan, apakah Anda termasuk yang beranggapan bahwa ini akan menghalangi Anda untuk sukses jika memilih karir di dunia MLM karena "sudah penuh sesak"? Jika Anda termasuk yang beranggapan demikian, izinkan saya mengangkat sebuah fenomena yang saya saksikan dan sudah temukan jawabannya dalam kurun waktu lebih dari 11 tahun pengalaman berkarir di dunia MLM. Sepanjang waktu tersebut, ungkapan "MLM sudah penuh sesak" ini tak pemah tak terucapkan oleh banyak orang. Selalu saja muncul.

Pada awataya saya tidak tahu bagaimana mengatasi pemyataan ini. Namun, seorang tokoh distributor MLM rupanya telah menjadi guru saya. Ketika dia dihadapi dengan pertanyaan yang sama, dia berkata, bahwa sepanjang karir kedistributoran MLM-nya hal ini selalu diangkat orang, tapi dia jalan terus. Ada seorang kenalan baiknya, katanya, yang lima belas tahun sebelumnya berkata demikian kepadanya. Atas alasan inilah, si kenalan berkeberatan menjadi distributor MLM. Setelah 15 tahun, si kenalan masih berpendapat demikian, sementara tokoh distributor MLM ini sudah meningkat jumlah anggota jaringannya dari ratusan orang menjadi puluhan bahkan ratusan ribu orang. Tokoh kita ini pun telah memiliki ini dan itu dari usaha MLM-nya sementara si kenalan masih berada di tingkat wacana juga dengan hasil nol koma nol. Dan... di tahun ke-16 barulah si kenalan sadar dan kemudian mulai membangun imperium bisnis MLM-nya!

Duh... mengapa harus menunggu selama itu ya?

© Fit Yanuar

Akan Jenuhkah Bisnis MLM?

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test