12 prinsip bisnis Tao Zhu-gong, Falsafah bisnis klasik Cina

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png
oleh Wee Chow Hou

Buku ini membahas 12 prinsip bisnis Tao Zhu-gong dan memperlihatkan penerapannya dalam situasi korporasi masa kini. Prinsip-prinsip ini mengungkapkan 12 kemampuan vital yang dibutuhkan seseorang untuk meraih sukses bisnis. prinsip-prinsip ini mencakup cara menangani pelanggan dan karyawan, cara mengelola sebuah perusahaan dan produk-produknya hingga cara membuat keputusan-keputusan bisnis. Hampir semua bidang yang perlu untuk pengembangan bisnis.

Keduabelas prinsip bisnis ini berasal dari masa 2000 tahun lalu. Meskipun demikian, prinsip-prinsip bisnis ini tetap memiliki arti penting yang besar sehubungan dengan cara menjalankan bisnis yang sifatnya universal dan kompleks itu. Buku ini juga mendemontrasikan relevansi prinsip-prinsip tersebut pada bisnis berukuran apapun, mulai dari toko kelontong, korporasi internasional, hingga perusahaan-perusahaan dot.com.

Tao Zhu-gong sendiri, adalah seorang ahli strategi militer yang mengundurkan diri dari kedudukan tinggi seorang perdana mentri untuk menjadi seorang pebisnis. Dengan menerapkan apa yang telah dipelajarinya ketika masih aktif dimiliter, ia membangun kekayaannya yang setara dengan kekayaan Bill Gate dijaman modern. Dimasa hidupnya, Tao Zhu-gong menyusun 12 prinsip ini, yang, sayangnya, bukan hanya tidak dikenal didunia Barat, tetapi juga oleh ornag-orang Cina sendiri. Baik di Timur atau di Barat, setiap pebisnis akan mendapatkan banyak masukan dari 12 prinsip bisnis Tao Zhu-gong.


12 prinsip bisnis tersebut secara lengkap berikut ini:

Prinsip bisnis ke 1: Kemampuan mengenali orang: mengetahui karakter orang akan menjamin kestabilan keuangan anda. (neng shi ren: zhi ren shan e, zhang mu fu)

Prinsip bisnis ke 2: Kemampuan menangani orang, memperlakukan orang dengan rasa hormat akan membuat anda diterima dikalangan luas dan membuat bisnis berkembang. (neng jie na: li wen xiang dai, jiao guan zhe zhong)

Prinsip bisnis ke 3: Kemampuan berfokus pada bisnis: mengabaikan yang lama untuk mendapatkan yang baru merupakan kutukan dalam bisnis.

Prinsip bisnis ke 4: Kemampuan mengorganisasikan: bila produk ditampilkan dengan baik, ia akan menarik perhatian banyak orang. (neng zheng dun: huo wu zheng qi, duo ren xin mu)

Prinsip bisnis ke 5: Kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel: keengganan dan keraguan akan menghasilkan kesia-siaan. (neng min jie: you yi bu jue, zhong gui wu cheng)

Prinsip bisnis ke 6: Kemampuan menagih pembayaran: rajin dan rewel akan memberikan keuntungan bagi perusahaan (neng tao zhang: qin jin bu dai, qu tao zi duo)

Prinsip bisnis ke 7: Kemampuan memperkerjakan dan menempatkan sumber daya manusia: memilih orang yang tepat untuk pembayaran yang tepat akan menjamin bahwa orang tersebut dapat dipercaya dan diandalkan. (neng yong ren: yin cai qi shi, ren shi you lai)

Prinsip bisnis ke 8: Kemampuan berbicara: kepandaian berbicara bisa mendatangkan keberuntungan dan memberikan pencerahan kepada orang lain. (neng bian lun: zuo cai you dao, chan fa yu meng)

Prinsip bisnis ke 9: Kemampuan unggul dalam pembelian: dalam pembelian, menawar sampai setiap ons-nya tidak akan mengurangi modal anda. (neng ban huo: zhi huo bu ke, shi ben bian jing)

Prinsip bisnis ke 10: Kemampuan mendiagnosa dan menyambar peluang serta melawan ancaman: Praktik bisnis yang bijaksana membutuhkan kemampuan untuk menjual dan menyimpan pada waktu yang tepat. (neng zhi ji: shou zhu zui zhi, ke cheng ming zhe)

Prinsip bisnis ke 11: Kemampuan memulai dan menjadi contoh: persahabatan dan kepercayaan akan muncul secara alami jika disiplin dan standar yang tinggi ditegakkan. (neng chang lu: gong xing yi lu: qin gan zhi sheng)

Prinsip bisnis ke 12: Kemampuan melihat jauh ke depan: kapan harus mencari lebih banyak, mengencangkan dan mengendurkan, tergantung pada situasi. (neng yuan shu: duo gua kuan jin, zhuo zhong er xing)


12 PANTANGAN BISNIS

antangan bisnis pertama: Jangan lamur dan berpandangan sempit (wu bi lou)

Pantangan bisnis ini dapat dengan mudah dikontraskan dengan prinsip bisnis ke-12, yaitu kemampuan melihat jauh kedepan (neng yuan shu). Agar menjadi orang yang berpandangan jauh kedepan, orang harus memiliki cara pandang yang luas dan mampu menganalisa serta menghargai sesuatu secara keseluruhan. Sebaliknya orang yang lamur dan berfikiran sempit akan mencemaskan hal-hal yang kecil. Dia tidak mungkin memiliki cara pandang seperti helikopter yang sangat diperlukan ornag untuk melihat jauh dan membangun perspektif jangka panjang.

Pantangan bisnis kedua: Jangan terlalu mengagungkan kebesaran. (wu xu hua)

Pantangan ini dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis ketiga, yaitu kemampuan berfokus pada bisnis (neng a n ye). Orang yang terlalu mengagungkan kebesaran cenderung mudah digoyahkan. Dia akan cenderung didikte oleh kejadian dan perubahan-perubahan, bukan mengendalikannya. Akibatnya, bisnisnya pasti kehilangan fokus, sehingga tidak mungkin ia membangun kompetisi inti perusahaannya.

Pantangan bisnis ketiga: Jangan ragu-ragu. (wu you rou)

Pantangan bisnis ini dengan mudah dapat dikontraskan dengan prinsip bisnis ke-5, yaitu kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel (neng min jie), dan prinsip ke-10 yaitu kemampuan mendiagnosa, menyambar peluang dan melawan ancaman (neng zhi ji). Apabila ornag rgau-ragu, dia tidak akan mungkin menangkap peluang walaupun sudah didepan mata. Disamping itu, dia juga tidak akan memapu merespon ancaman dengan cepat. Untuk mengambil keuntungan dari peluang yang ada dan untuk menyikapi ancaman dengan efektif, orna harus tangkas dan fleksibel.

Pantangan bisnis keempat: Jangan malas (wu lan duo)

Ini merupakan pantangan bisnis yang cakupannya cukup luas, dapat dihubungkan dengan berbagai prinsip bisnis, misalnya, dengan prinsip bisnis ke-4, kemampuan mengorganisasikan (neng zheng dun). Organisasi yang efektif memerlukan kerja keras dan usaha. Kemalasan tentu menjadi penghalang. Bermalasan juga berlawanan dengan prinsip bisnis ke-5. Kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel (neng min jie). Orang yang malas juga tidak akan mau menghabiskan waktu dan usaha untuk mendiagnosa peluang dan ancaman yang muncul di lingkungannya (neng zhi ji) yang merupakan prinsip bisnis ke-10. Terakhir, kemalasan juga dikontraskan dengan prinsip ke-11, kemampuan untuk memulai dan menjadi contoh (neng chang lu). Tidak diragukan lagi, untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses, kerja keras dan jiwa kepemimpinan yang patut dijadikan teladan merupakan kualitas yang penting. Tidak ada ruang untuk diam berpangku-tangan.

Pantangan bisnis kelima: Jangan keras kepala (wu gu zhi)

Keras kepala menunjukkan ketidakluwesan, ketidakmauan untuk berubah dan menyesuaikan diri. Karena itu, pantangan bisnis ini dapat dikontraskan dengan prinsip bisnis ke-5 yaitu kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel (neng min jie), dan prinsip bisnis ke-10, kemampuan mendiagnosa peluang dan ancaman (neng zhi ji). Orang yang keras kepala tidak akan mungkin mengenali peluang dan ancaman yang akan datang, apalagi untuk mengambil tindakan pencegahan. Dari perspektif lain, orang yang keras kepala juga tidak mungkin menjadi pemimpin yang baik. Karena itu, pantangan bisnis kelima ini, seperti pantangan bisnis sebelumnya, juga dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-11, kemampuan untuk memulai dan menjadi contoh (neng chang lu).

Pantangan bisnis keenam: Jangan terlalu argumentatif (wu qiang bian)

Pantangan bisnis ke enam ini dengan mudah dapat di gunakan untuk mendukung prinsip bisnis ke-8, kemampuan berbicara (neng bian lun). Seorang pengusaha memang perlu memiliki kepandaian berbicara agar dapat memanangkan perdebatan, adu pendapat dan kesepakatan bisnis. Tetapi jika ia terlalu argumentatif, hasilnya akan berbeda. Terutama, apabila ia bersikukuh mempertahankan pendapat dan pandangan pribadinya, tanpa didasari fakta dan bukti kongkrit. Hal seperti ini bisa membuat teman-teman, pelanggan serta kontrak bisnisnya menjauh. Seorang yang terlalu argumentatif mudah disalahmengerti sebagai orang yang kasar, tidak sopan, dan tidak berperasaan. Ini semua merupakan faktor negatif yang dapat mempengaruhi hubungan bisnis. Pada akhirnya, perlu dicamkan bahwa seseorang tidak harus selalu memenangkan perdebatan. Sebaliknya, orang harus belajar kapan harus menang dan kapan harus mundur dengan keanggunan.

Pantangan bisnis ketujuh: Jangan mudah membuka diri (wu qing chu)

Ada berbagai cara untuk menafsirkan apa yang dimaksud dengan mudah membuka diri. Dalam mengelola bisnis, orang tidak boleh mengembangkannya dengan serampangan karena hal itu dapat menyebabkan meningkatnya kerentanan, dan membuat perusahaan kehilangan fokus terhadap inti bisnisnya. Dilihat dari perspektif diatas, pantangan bisnis ini dapat dihubungkan dengan prinsip binsis ke-3, kemampuan memusatkan usaha (neng an ye). Dari sudut pandang finansial, pada bagian akutansi penagihan, tidak perlu memberikan posisi simpatik perusahaan terhadap keterlambatan pembayaran, juga tidak perlu membeberkan informasi keuangan perusahaan. Karena itu, pantangan bisnis ini juga dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-6, kemampuan menagih pembayaran (neng tao zhang).

Pantangan bisnis kedelapan: Jangan rakus akan pinjaman (wu tan she)

Dalam perspektif finansial, prinsip bisnis ini dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-3, kemempuan untuk berfokus pada usaha (neng an ye), dan berlawanan dengan prinsip bisnis ke-6, kemampuan menagih pembayaran (neng tao zhang). Jika pengusaha tidak mengetahui cara agar tetap terfokus, dia akan mudah dipengaruhi oleh bermacam hal yang kelihatannya seperti peluang bisnis yang besar. Dalam semangat yang berlebihan untuk berkembang, dia mungkin ingin mengambil pinjaman yang tidak perlu sehingga terlalu membebani keuangan perusahaan, apalagi jika kredit tersedia dengan mudah. Menggunakan kredit dalam bisnis tidaklah salah, bahkan sudah merupakan cara yang biasa dalam transaksi bisnis. Tantangan sebenarnya dalam menggunakan fasilitas kredit adalah kemampuan untuk menanganinya. Disinilah pentingnya perancanaan dana cair. Karena itu, pengusaha yang mampu menagih pembayaran biasanya menghargai pentingnya perencanaan kas serta dampaknya terhadap operasional perusahaan. Kemungkinan besar, dia akan cenderung lebih bijaksana dalam menggunakan kredit.

Pantangan bisnis ke sembilan: Jangan terlibat dalam persaingan yang tidak perlu (wu zheng qu)

Apabila hurup Cina (wu zheng qu) digunakan untuk menggambarkan sesorang, maka gambaran yang ditunjukkan adalah orang yang mudah tergoda dan suka melibatkan diri dalam berbagai tindakan. Secara umum melukiskan orang-orang yang suka menjadi pusat perhatian dan mengagungkan kebesaran (pantangan bisnis ke-2). Jadi, pantangan bisnis ini berlawanan dengan prinsip bisnis ke-3, kemampuan berfokus pada usaha (neng an ye). Seorang pengusaha yang sangat terfokus tidak akan mudah tergoda dan bergegas masuk ke dalam pertempuran dengan kompetitornya.

Pantangan bisnis kesepuluh: Jangan melemahkan simpanan dan surplus (wu bo xu)

Prinsip ini sangat berhubungan dengan prinisip bisnis ke-6, kemampuan menagih pembayaran (neng tao zhang). Jika perusahaan mampu menagih dengan tegas, maka perusahaan akan mampu menyimpan lebih banyak, dan mengakumulasikan surplus untuk mengembangkan bisnisnya. Pantangan ini bisa juga dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-12, kemampuan melihat jauh ke depan (neng yuan shu). Bisnis harus terdorong untuk tumbuh dan bertahan dalam waktu yang panjang. Pengusaha yang berwawasan kedepan akan mengetahui pentingnya membangun surplus agar dapat digunakan saat muncul berbagai peluang bisnis. Surplus juga diperlukan untuk mengatasi masa-masa sulit yang bisa muncul kapan saja, dari waktu ke waktu.

Pantangan bisnis kesebelas: Jangan abaikan perubahan kondisi dan trend bisnis (wu mei shi)

Pantangan ini jelas berhubungan dengan prinsip bisnis ke-10, kemampuan untuk mendiagnosa peluang dan ancaman (neng zhi ji). Apabila trend dan kondisi bisnis berubah, pengusaha yang bijak pasti segera menganalisis implikasinya. Apa peluang yang muncul dan ancaman yang harus dihadapi, sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. Jika ia terlalu lamban, dia tidak hanya akan kehilangan peluang yang ada, tetapi ia juga bisa ditimpa oleh ancamannya. kemampuan untuk mengetahui trend dan kondisi bisnis, dalam jangka pendek maupun jangka panjang, merupakan keunggulan pengusaha yang mempu melihat jauh ke depan, seperti yang tergambar dalam prinsip bisnis ke-12 (neng yuan shu). Dia mengetahui bahwa agar bisnisnya tumbuh pesat, perusahaan tidak hanya harus beroperasi dalam lingkungan yang sangat dinamis dan berubah-ubah, tetapi ia juga harus berinteraksi dengan kondisi tersebut.

Pantangan bisnis keduabelas: Jangan terlalu mengandalkan produk yang ada (wu chi huo)

Terlalu mengandalkan produk yang ada menunjukkan bahwa anda berasumsi trend dan kondisi bisnis , termasuk selera dan keinginan konsumen, tidak akan berubah. Sehingga pada saat perubahaan tersebut terjadi, perusahaan akan menghadapi stok produk lama yang melimpah, ancaman kadaluarsa dan ketinggalan zaman. Terlalu percaya akan produk yang ada, juga dapat membuat perusahaan buta akan peluang keuntungan yang bisa didapat dari produk-produk baru yang lebih baik. Yang jelas, salah satu cara menghindari hal ini adalah dengan menerapkan prinisp bisnis ke-9; kemampuan unggul dalam pembelian (neng ban huo).


16 PELAJARAN BISNIS

keenambelas pelajaran bisnis ini bertindak mendukung 12 prinsip bisnis Tao Zhu-gong . pelajaran tersebut adalah sebagai berikut:

Pelajaran bisnis pertama: Dalam mengelola bisnis, diperlukan kerajinan, kemalasan akan menghancurkan segalanya. (sheng yi yao qin jin, lan duo ze bai shi fei)

Pelajaran bisnis ini dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-5, kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel (neng min jie), prinsip ke-10, kemampuan mendiagnosa peluang dan ancaman (neng zhi ji), dan prinsip ke-11, kemampuan menilai dan menjadi contoh (neng chang lu)

Pelajaran bisnis kedua : Orang harus di hadapi dengan rasa hormat; temperamen pemarah dan sikap yang buruk akan benar-benar menghilangkan penjualan.

Bisa dikatakan bahwa ke-12 pantangan bisnis tidak berisi ungkapan yang ada hubungnanya dengan prinsip bisnis ke-7 mengenai: mengenali, menangani dan menempatkan orang. Sebaliknya, pelajaran bisnis ke-2 ini langsung berhubungan dengan prinsip bisnis ke-2, kemampuan menangani orang (neng jie na).

Pelajaran bisnis ketiga: Harga produk harus ditampilkan dengan jelas, harga yang samar akan menyebabkan perdebatan dan perselisihan (yi jia yao ding ming, han hu ze zheng zhi duo)

Pelajaran bisnis ini berhubungan dengan prinsip bisnis ke-4, kemampuan untuk mengorganisasikan (neng zheng dun)

Pelajaran bisnis keempat: Rekening harus di cek dengan teliti dan dimonitor, kecerobohan dan kesilapan akan membuat modal tak bergerak (zhang mu yao ji cha, dai ze zi ben zhi)

Pelajaran bisnis ini berhubungan dengan prinsip bisnis ke-6, kemampuan menagih pembayaran (neng tao zhang).

Pelajaran bisnis kelima: Produk harus ditata dan dipajang dengan baik, ketidakrapian akan menimbulkan kesan kadaluarsa dan rongsokan (huo wu yao zheng li, san man ze bi fei can)

Seperti pelajaran bisnis ke-3, pelajaran bisnis in juga berhubungan dengan prinsip bisnis ke-4, kemampuan mengorganisasikan (neng zheng dun)

Pelajaran bisnis keenam: Untuk mengabulkan kredit dan mengeluarkan dana diperlukan kebijaksanaan dan perhatian, kecerobohan hanya akan mengakibatkan kerugian dan kelemahan (chu na yao jin shen, da yi ze cuo lou duo)

Pelajaran bisnis ini langsung berhubungan dengan prinsip bisnis ke-6, kemampuan menagih pembayaran (neng tao zhang). Cara perusahaan mengabulkan kredit yang diminta kliennya, akan mempengaruhi mudah tidaknya proses dalam penagihan. Pelajaran bisnis ke-6 juga dapat dihubungkan, jika perusahaan memiliki mekanisme yang efektif dalam menyaring pelanggannya (yaitu, mengenal mereka secara mendalam), potensi gagal bayar akan semakin kecil.

Pelajaran bisnis ketujuh: Pembayaran harus dilakukan pada waktu yang sudah disepakati, penundaan akan menyebabkan hilangnya kredibilitas (qi yin yao yue ding, yan chi ze shi xin yong shi)

Pelajaran bisnis ini merupakan kebalikan dari Prinsip bisnis ke-6, kemampuan menagih pembayaran (neng tao zhang). Disatu sisi perusahaan harus berani meminta debitor untuk membayar, namun disisi lain perushaan juga harus memiliki sikap bertanggung jawab terhadap krediturnya. Pelajaran bisnis ke-7 ini dapat juga dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-12, kemampuan melihat jauh kedepan (neng yuan shu). Kredibilitas akan sangat diperlukan jika perusahaan memasuki masa-masa keuangan yang sulit. Namun, kredibilitas perlu dibina secara konsisten dalam waktu yang cukup lama dengan cara mendapatkan kepercayaan para kreditur. Seorang pengusaha yang berfikiran jauh kedepan, pasti bisa memahami pentingnya hal ini.

Pelajaran bisnis kedelapan: Kejadian yang tidak diharapkan harus dihadapi dengan tanggung jawab; mengabaikannya hanya akan mendatangkan lebih banyak kerugian (lin shi yao ze ren, fang qi ze shou hai da)

Pelajaran bisnis ini berhubungan dengan prinsip bisnis ke-3, kemampuan memusatkan usaha (neng a n ye). Dengan kata lain, bila seseorang telah mendirikan suatu usaha, dia harus tetap menekuninya, dan tidak mudah menyerah. Pelajaran bisnis ini dapat juga dihubungkan dengan dua prinsip bisnis lainnya, yaitu, prinsip bisnis ke-5, kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel (neng min jie), dan prinsip bisis ke-10, kemampuan mendiagnosa peluang dan ancaman (neng zhi ji).

Pelajaran bisnis kesembilan: Sumber daya harus digunakan secara cermat; pemborosan akan mengikis kekayaan. (yong du yao jie jian, she chi ze yong tu jie)

Pelajaran bisnis ini ada hubungannya dengan Prinsip Bisnis ke-11, kemampuan untuk memulai dan menjadi contoh (neng chang lu). Seorang pemimpin harus bisa menjadi contoh moral melalui gaya hidupnya dan bagaimana ia mengelola sumber daya perusahaan. Jika dia bersifat serampangan, maka harta perusahaan akan dikelola bagaikan usaha untung-untungan. Pelajaran bisnis ini, dapat juga dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-3, kemampuan memusatkan usaha (neng an ye), dan prinsip ke-12, kemampuan melihat jauh kedepan (neng yuan shu). Jika bisnis perusahaan difokuskan dengan baik, kecil sekali kemungkinan penggunaan dana untuk hal yang tidak perlu dan tidak membantu meningkatkan kompetensi dan daya saing. Demikian juga bila pemimpin perusahaan mampu melihat jauh kedepan, mereka akan mengetahui bagaimana menggunakan sumber daya dengan lebih hemat dan menumbuhkembangkan bisnis.

Pelajaran bisnis kesepuluh: Penjualan harus dilakukan setiap saat; penundaan akan menyebabkan hilangnya peluang (mai mai yao sui shi, ai yan ze ji hui shi)

Pelajaran bisnis ini dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-10, kemampuan mendiagnosa peluang dan ancaman (neng zhi ji), dan prinsip bisnis ke-5, kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel (neng min jie). Tidak bisa disnagkal bahwa bisnis adalah usaha memanfaatkan peluang dan menghindari ancaman sehingga bisa menghasilkan uang, dan uang. Untuk mencapainya, pengusaha haruslah tangkas dan fleksibel sehingga dapat memberikan respons dengan cepat dan efektif.

Pelajaran bisnis kesebelas: Debitur harus benar-benar dicermati, memberi pinjaman tanpa seleksi akan mengakibatkan pengikisan modal (she qian yao shi ren, lan chu ze xue ben kui)

Pelajaran bisnis ini dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis pertama, kemampuan mengenali orang (neng shi ren). Pada dasarnya dalam menjalankan bisnisnya pengusaha Cina sangat bergantung pada guangxi (hubungan/ relasi), sebab itu mengenal baik pelanggannya sebelum mengabulkan pemberian kredit menjadi sangat penting; jika tidak mereka akan terbebani oleh utang yang tidak tertagih. Tak hanya itu, kekuatan finansial perusahaan juga akan sangat terpengaruh.

Pelajaran bisnis keduabelas: Yang baik dan buruk harus dapat dibedakan dengan jelas, kelalaian akan menyebabkan kekacauan dan kebingungan. (you lie yao fen qing, gou qie ze bi hu tu)

Pelajaran bisnis ini dapat dihubungkan dengan prinsip bisnis ke-8, kemampuan berbicara (neng bian lun). Untuk dapat berbicara dengan baik, orang harus memiliki pikiran jernih yang mampu memisahkan “kambing” dari “domba” dan mempu memberikan argumen dengan cara yang paling mudah dimengerti. Pelajaran bisnis keduabelas dapat juga diaplikasikan pada prinsip bisnis ke-9, kemampuan unggul dalam pembelian (neng ban huo). Pada saat membeli, orang harus mengetahui barang mana yang nantinya akan laku. Jika tidak, perusahaan bisa menumpuk terlalu banyak barang dan produk tak terjual yang akhirnya menjadi kadaluarsa.

Pelajaran bisnis ketigabelas: Karyawan harus jujur dan tulus, karyawan yang licik dan tidak jujur akan menyusahkan pimpinan. (yong ren yao fang zheng, gui jue ze shou qi lei)

Pelajaran bisnis ini hampir sama dengan prinsip bisnis ke-7, kemampuan menempatkan orang (neng yong ren); dapat pula dihubungkan dengan prinsip bisnis pertama, kemampuan mengenali orang (neng shi ren). Pemimpin yang tahu bagaimana memilih karyawan yang tepat tidak akan terlalu ditimbuni berbagai masalah yang berhubungan dengan manajemen sumber daya manusia.

Pelajaran bisnis keempatbelas: Barang-barang harus diteliti dengan baik; membeli dengan serampangan dan tidak berhati-hati akan menyebabkan harga menjadi turun. (huo wu yao mian yan, lan shou ze shou jia di)

Pelajaran bisnis ini jelas memiliki hubungnan dengan prinsip bisnis ke-9, kemampuan unggul dalam pembelian.

Pelajaran bisnis kelimabelas: Masalah keuangan harus diatur dengan bijaksana, kecerobohan akan menyebabkan masalah dan kesusahan ( qian cai yao qing chu, hu tu ze bi dou sheng )

Pelajaran bisnis ini berhubungan dengan prinsip bisis ke-6, kemampuan menagih pembayaran (neng tao zhang). Kemampuan mengutip pembayaran baru merupakan salah satu bagian dari manajemen keuangan yang seimbang, sedangkan bagian lainnya adalah belajar mengendalikan dana secara bijaksana.

Pelajaran bisnis keenambelas: Pemimpin harus mantap dan tenang; kesembronoan dan ketergesa-gesaan akan menyebabkan kesilapan dan kesalahan (zhu xin yao zen ding, wang zuo ze wu shi duo).

Pelajaran bisnis ini berhubungan dengan prinsip bisnis ke-11, kemampuan untuk memulai dan menjadi teladan (neng chang lu)



Berikut adalah beberapa contoh penjelasan buku tersebut, untuk prinsip bisnis pertama, yakni: “kemampuan mengenali orang“, saya cantumkan disini:


Contoh Seni mengenal orang: microsoft

Strategi penyaringan dan seleksi merupakan ilustrasi yang baik tentang bagaimana menerapkan prinsip mengenali orang untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Karena persaingan antara perusahaan semakin ketat, banyak CEO induk perusahaan multinasional (MNCs) menyadari bahwa agar perusahaan berkembang menjadi penentu pasar, maka sangat penting untuk bisa merekrut orang-ornag yang pintar. Itulah sebabnya perusahaan-perusahaan multinasional bersedia berkorban supaya orang-orang pintar mau bergabung. Merancang paket gaji yang menarik tidak cukup untuk memikat mereka yang sangat berbakat.

Biasanya perusahaan-perusahaan besar akan menggunakan rekrutor perusahaan sendiri yang profesional, badan pencari tenaga kerja dari luar, dan sumber-sumber lai untukmenyaring calon yang potensial. beberapa perusahaan bahkan menjalankan proses yang berlebihan dengan mendekati calon jauh sebelum ia memikirkan meninggalkan pekerjaannya. Adakalanya, untuk calon-calon posisi kunci, CEO dan anggota staff senirnya terlibat langsung dalam proses rekrutmen. Mungkin “Microsoft”, perusahaan softwere komputer raksasa bisa menjadi ilustrasi yang baik betapa panjangnya proses rekrutmen tenaga kerja.

Di perusahaan “Microsoft”, menarik perhatian orang-orang yang memiliki bakat-bakat terbaik hampir merupakan budaya perusahaan. Di muali dari Bill Gates, dan kemudian melibatkan seluruh manajer senior. Prosesnya sangat teliti, ekstensif dan mahal, tetapi sangat berarti. Perusahaan bisa mencari bibit terbaik di pasar softwere setiap tahunnya. Misalnya, di akhir tahun 1990-an, setiap tahunnya ada sekitar 25.000 lulusan ilmu komputer di Amerika dan Microsoft akan menyaring 8.000 diantaranya. dari jumlah 8.000 ini, 2.600 akan diwawancarai di kampus. Dari jumlah tersebut, 800 orang akan diundang untuk berkunjung ke kampus Microsoft di Redmon, di dekat Seattle untuk wawancara lanjutan.

Di kampus Redmon, masing-masing calon yang potensial akan diwawancarai oleh 3 sampai 10 pewawancara, biasanya secara bertahap. Masing-masing pewawancara akan memberikan komentar dan hasil pengamatannya kepada pewawancara berikutnya melalui email sehingga ia bisa meneliti si calon lebih jauh dan terinci. Dari sekitar 800 calon, tawaran akan diberikan kepada 500 diantaranya, dimana 400 calon biasanya akan menerima tawaran itu dan bergabung dengan “Microsoft”.

Microsoft tidak hanya merekrut bibit berbakat dari mahasiswa yang baru lulus saja. Karena sejak akhir tahun 1990-an Microsoft memperkerjakan 2.000 karyawan baru setiap tahunnya, ia harus melihat kemungkinan merekrut orang-orang terbaik dan terpintar dikalangan industri softwere. Untuk mencari para profesional berbakat ini, Microsoft menggunakan apa yang diistilahkan perusahaan sebagai “strike force” dari 200 karyawan penuh yang tugas utamanya adalah mengintai, mencari tahu, dan menarik orang-orang berbakat yang ada.

Seringkali, anggota “strike force” dengan aktif menghubungi calon potensial, walaupun orang tersebut sudah benar-benar puas dengan pekerjaan yang dimilikinya atau mungkin ia malah memiliki kesan negatif terhadap Microsoft. Jika orang yang dituju benar-benar di inginkan oleh Microsoft, “strike force” akan berusaha mati-matian untuk memperolehnya. Misalnya, anggota tim rekrut akan menghubungi calon potensial tersebut secara tetap, dan mengundangnya untuk makan malam atau kegiatan lain agar bisa tetap membuka jalur komunikasi dan dialog dengan calon. Tujuannya adalah untuk menanamkan ide kepada calon bahwa kapan saja ia berniat meninggalkan pekerjaannya, dengan alasan apapun, Microsoft akan selalu menerimanya dan memberikan imbalan kerja yang terbaik.

Setiap musim panas, Bill gates mengundang orang-orang baru diperusahaannya (biasanya berkisar 500 - 1.000) datang ke rumahnya yang bernilai US$60 juta. Dia akan berbaur dengan tamu-tamu muda, menjawab pertanyaan mereka, memberi nasihat dan menguatkan keinginan mereka untuk berkarir dalam perusahaannya.

Semakin hebatnya persaingan perusahaan dan banyaknya perusahaan yang berambisi menjadi pemain dunia mengakibatkan diperlukannya bakat-bakat taraf dunia. Dengan semakin banyaknya negara maju yang bergerak menuju perekonomian berdasarkan ilmu pengetahuan, perusahaan antar perusahaan akan ditentukan oleh kualitas daripada kuantitas tenaga kerja.

Karena itu, petualangan memenangkan bakat-bakat teratas akan dilakukan lebih gigih daripada sebelumnya. Gejala ini sudah muncul di Amerika dan Eropa dimana perusahaan-perusahaan multinasional mati-matian mencari dan menarik hati bakat-bakat terbaik dari universitas-universitas dan industri-industri. Bagi perusahaan multi nasional seperti Microsoft, kemampuan mengenal dan menilai orang (yaitu karyawan yang akan mereka perkerjakan) akan menentukan seberapa besar sukses perusahaan dalam persaingan dimasa depan.

Contoh Seni mengenal orang: Kurir Pengirim Uang di Perkampungan India di Singapura.

Seni mengenal orang dalam perilaku bisnis tidak hanya terbatas pada orang Cina saja. Keturunan Asia lainnya seperti India, arab, Melayu dan Indonesia juga sangat mengandalkan hubungan pribadi dalam kesepakatan bisnis mereka. Di Eropa, orang Italia juga mengandalkan hubungan seperti ini dalam perilaku bisnis mereka. Penting diketahui bahwa mengandalkan hubungan pribadi dan pertalian merupakan sesuatu yang alami, khususnya bila kesepakatan atau transaksi tersebut dalam pelaksanaannya harus mengandalkan seseorang. contohnya di bawah ini:

Di Singapura, disuatu tempat yang cukup terkenal bernama Little India (India Kecil) di sepanjang jalan Serangon, terdapat suatu pasar penukaran mata uang asing yang ramai. Pasar ini melayani pekerja-pekerja Bangladesh maupun India yang bermaksud mengirmkan hasil kerja kerasnya ke keluarga didesa asal mereka. pada hari Minggu sore, jumlah orang dipasar itu mencapai ribuan orang. Para pekerja ini akan membentuk kelompok-kelompok kecil di sekeliling setiap kurir pengirim uang (dalam bahasa Bengali disebut Hundi). Setiap Hundi memiliki “bodyguard” dan pembantu-pembantu. Harga nilai tukar mata uang asing diumumkan ke orang-orang yang mengelilinginya. Jika seorang pekerja telah memilih hundi-nya, ia akan mengatakan kepada hundi itu kemana dan kepada siapa ia ingin mengirimkan uang itu. Hundi akan mencatat tujuan uang itu dalam sebuah buku kumal, dan “memetraikan” kesepakatan bisnis ini dengan janji dan jabatan tangan. Selesai sudah - - tidak ada tanda terima yang diberikan kepada kliennya (para pekerja asing itu).

Singapura tidak kekurangan bank atau agen pengirim uang, namun para pekerja asing tetap memilih hundi. Ada beberapa alasan. Para hundi biasanya datang dari negara, latar belakang bahkan desa yang sama dengan para pekerja. Beberapa diantaranya juga dulu bekerja sebagai pekerja kasar seperti mereka. Jadi hundi bukan hanya bisa merasakan kerja keras dan keadaan kliennya, mereka juga memiliki keterkaitan dengan rumah dan keluarga para pekerja. Lagipula para hundi ini memberikan harga nilai tukar yang jauh lebih baik daripada bank atau agen penukaran uang lainnya. Juga tidka ada beban biaya tambahan, administrasi ataupun komisi. Yang lebih penting lagi, Hundi yang usahanya telah mapan mendapatkan reputasi yang baik karena mereka terbukti bisa diandalkan dan dipercaya dalam memegang janjinya dan mengirimkan barang yang disepekati.

Sistem penukaran dan pengiriman uang seperti Hundi ini tidak hanya ada di Singapura saja. Kenyataannya dinegara-negara dimana banyak tenaga kerja asing, jaringan kerja imformal semacam ini biasanya akan muncul. Selain alasan-alasan yang dikemukakan sebelumnya, perlu diperhatikan bahwa tenaga kerja asing yang tidak punya kemampuan khusus biasanya adalah orang-orang yang tidak berpendidikan atau berpendidikan sangat rendah. Jadi mereka cenderung takut memasuki bank dan segala birokrasi dan pelayanannya yang impersonal. Juga adanya biaya tambahan. Sebaliknya, Hundi adalah orang-orang yang mereka kenal. Jika sampai keluarga mereka tidak menerima uangnya maka mereka akan memburu Hundi itu karena mereka mengenalnya secara pribadi. Ini adalah sistem yang dibangun diatas dasar kepercayaan, sebab itu para Hundi diharapkan menjaga kepercayaan mereka sehingga bisnisnya bisa terus berlanjut.

Dari contoh-contoh diatas, tidaklah mengejutkan jika para pengusaha Cina menempatkan kemampuan “mengenal orang” pada tempat yang penting. Ini karena secara tradisional, pengusaha cina selalu mementingkan hubungan (guanxi) dan rasa percaya (xin yu) dalam kesepakatan bisnis mereka daripada kontrak tertulis. Sebab itu bisa dimengerti jika bisnis mereka cenderung berpusat paa orang (zhong ren).

Bila seseorang mempercayai orang lain, perjanjian tidak diperlukan lagi. Siapa yang perlu membuat perjanjian dengan anaknya tentang tugas dan kewajiban kedua pihak? Jaman dahulu di Cina tidak ada surat pernikahan. Pasangan yang akan menikah hanya berjanji didepan penduduk desa. Tidak ada dokumen yang membuktikan bahwa mereka sudah menikah. Namun mereka menjalani hidup dengan mematuhi kewajiban masing-masing. Karena itu, dari sudut pandang orang Cina, bila bisnis semakin lama semakin tebal, menunjukkan kedua pihak semakin tidak percaya satu sama alain. Oleh karena itu, kenapa susah payah melanjutkan hubungan bisnis?

Pepatah berikut ini menekankan terbinanya hubungan langsung:

Bertemu secara pribadi akan memastikan adanya rasa (jian mian san fen qing)

Lama mendengar berita tentang seseorang tidak sebanding dengan menemuinya (jiu wen bu ru yi jian)

Saat kita bertemu, serasa seperti kita sudah berteman lama (yi jian ru gu)

Manajemen dengan pendekatan yang berorientasi pada manusia memerlukan adanya investasi waktu dan usaha dalam membina hubungan dan jaringan bisnis. Karena itu tidaklah mengejutkan bila sekali guanxi terbina maka akan berlangsung dalam waktu yang lama. Akibatnya, hubungan bisnis orang Cina cenderung lebih berorientasi pada perasaan (zong qing). Konsep “wajah” (mian zi) menjadi manifestasi dan representasi hubungan dan perasaan yang sangat penting.

Karena itu, jika ada ketidaksepakatan atau perselisihan antara kedua pihak, menghargai perasaan orang lain sangat penting artinya. Ini bisa juga termasuk menyelamatkan muka orang lain. Jika tidak bisa dicapai persetujuan, mereka akan selalu mencoba menyelesaikan masalah, perbedaan, pertikaian atau ketiksepakatan mereka melalui perantara, biasanya menggunakan orang lain yang bisa diterima keduanya. Disinilah biasanya logika mulai muncul, karena penengah harus seadil dan seobjektif mungkin agar bisa dipercaya dan dihormati. Hanya apabila usaha penengah gagal, mereka dengan berat hati akan meneruskan ke pengadilan. Bagi orang Cina, sekali dilakukan usaha hukum, maka seluruh hubungan akan rusak dan akan sulit bagi kedua pihak untuk bekerja sama kembali.

Pendekatan “perasaan-logika-hukum” (qing, li, fa) sangat mewarnai cara berbisnis di kalangan orang Cina. Hal ini sangat bertolak belakang dengan yang terjadi dikalangan orang Amerika yang secara umum lebih memilih sebaliknya, yaitu: “hukum-logika-perasaan” (fa, li, qing). Bagi pengusaha Amerika, perjanjian berdasarkan hukum bukan saja merupakan jaminana terbaik dalam hubungan bisnis, tetapi juga memuat kewajiban bersama kedua pihak, dan bagaimana menyelesaikan pertikaian yang mungkin muncul. Pendekatan ini lebih disenangi karena di Amerika ada sistem yuridis yang begitu kuat menjamin bahwa perjanjian bisa ditegakkan sebagai hukum. Menariknya, selama pembicaraan-pembicaraan yang saya sampaikan dalam konsultasi di Eropa, saya melihat bahwa orang Eropa cenderung menggunakan pendekatan “logika-hukum-perasaan” (li, fa, qing).

Jika kita bicara tentang mengenali orang, ada satu hal penting lagi yang harus diperhatikan. Bersama dengan berlalunya waktu, perbedaan situasi dan keadaan , sifat dan kepribadian seseorang bisa berubah. Hal ini harus disadari. Sayangnya, orang Cina dan banyak suku Bangsa di Asia melupakan hal itu. Jarang sekali orang yang sudah mendapat reputasi “bisa dipercaya” (xin yu) dan bisa diandalkan (ke kao) diuji lagi untuk melihat apakah atribut tersebut masih tetap melekat padanya. Tidak jarang sebaliknya yang terjadi. Seringkali terlalu banyak pujian dan kepercayaan yang diberikan padanya, orang yang dekat padanya atau yang direkomendasikannya.

Misalnya: pinjamana sering diberikan pada seseorang tanpa diteliti lebih dahulu sepanjang ia didukung oleh orang yang cukup dikenal. Akibatnya, saat pinjaman tidak terbayar, keuangan perusahaan sangat sulit diselamatkan. Inilah salah satu penyebab utama terjadinya krisis keuangan di kebanyakan negara Asia 1997/ 1998. Sistem mempercayai orang yang dikenal semacam inilah yang membangkitkan nepotisme dan praktik korupsi lainnya yang akhirnya diketahui umum setelah terjadinya krisis ekonomi Asia tahun 1997 / 1998. Hal ini disebabkan oleh kecendrungan melupakan pentingnya transparansi, pemeriksaan dan keseimbangan.

Sebaliknya, sistem masyarakat Barat yang mengandalkan kontrak tertulis mendorong tumbuhnya transparansi, objektivitas dan pertanggungjawaban. Dalam masalah pinjaman bank, misalnya, orang Barat akan melakukan tes dan penyelidikan yang jauh lebih ketat. Hal seperti inilah yang harus dipelajari orang Timur dari orang Barat. Kita harus berupaya memadukan hal yang terbaik dari Timur dan di Barat sehingga bisa memperoleh yang terbaik dari kedua sistem tersebut.

12 prinsip bisnis Tao Zhu-gong, Falsafah bisnis klasik Cina

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test