Berani Mimpi

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png
(Sumber : Buku 16 Wisdom & Success by Andrie Wongso)

"Orang-orang besar/sukses tidak pernah berhenti berusaha hanya karena kesangsian dan ejekan orang banyak atas cita-cita besarnya."



Alkisah, di sebuah desa miskin ada satu sekolah dasar. Hanya sedikit muridnya karena kebanyakan anak-anak di desa itu membantu orang tuanya mencari nafkah. Suatu hari, satu-satunya guru yang ada di sekolah itu sedang memberi pelajaran mengarang. Setelah menjelaskan cara-cara mengarang cerita, si guru memberikan pekerjaan rumah. "Anak-anak, pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul cita-citaku. Besok, hasil karangan kalian dibaca di depan kelas satu per satu..."

Keesokan harinya, murid-murid maju ke depan kelas dan membacakan karangannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi guru, petani, atau pegawai pemerintah, dll. Sang guru selalu manggut-manggut tanda setuju. Lalu, tiba giliran seorang murid yang paling muda usianya. Bajunya tambal sulam, tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang. "Kalau besar nanti, aku ingin punya rumah besar di atas bukit, dengan pemandangan yang indah, berdampingan dengan pondok-pondok kecil di sekelilingnya untuk tempat peristirahatan. Berderet pohon cemara dan pohon-pohon yang rindang di antara rumah-rumah itu.

Ada taman bunga tertata apik dengan beraneka bunga dan warna. Ada kebun buah dengan buah-buahan lezat yang bisa dipetik oleh penghuni rumah dan penduduk di sekitarnya. Saya ingin jadi orang sukses dan bahagia bersama dengan keluarga besar dan para tamu yang datang di sana".

Mendengar suara lantang si murid kecil itu, kontan seisi kelas tertawa bersamaan. "Dasar pemimpi...!" ejek murid yang lain. Mereka mencemooh cita-cita si murid kecil. Melihat kegaduhan itu, si guru jadi marah-marah, la menganggap, biang kerok kegaduhan itu adalah si murid kecil. Si guru menegurnya, "Yang kamu tulis itu bukan cita-cita, tapi itu impian yang tidak mungkin terjadi. Kamu harus tulis ulang tentang cita-citamu yang sebenarnya," perintah sang guru.

"Guru, ini adalah cita-citaku yang sebenarnya. Ini bukan hanya mimpi, ini bisa menjadi kenyataan," murid kecil bersikeras.

"Heh... kamu hidup di desa yang miskin, keluargamu juga keluarga miskin. Bagaimana kamu akan mewujudkan cita-cita seperti itu? Dasar pemimpi..! Buat karangan yang masuk akal saja!" teriak si guru muiai tidak sabar.

"Aku tidak mau cita-cita yang lain. Ini cita-citaku tidak ada yang lain...," si murid kecil ngotot.

"Besok kamu harus bawa karangan yang baru. Jika kamu tidak perbaiki karanganmu itu, kamu akan mendapat nilai jelek," si guru mulai mengancam. Namun keesokan harinya, si murid kecil ke sekolah tanpa membawa karangan baru. Walau diancam dan dipermalukan seperti itu, dia tetap pada cita-citanya semula. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah guru, akhirnya ia mendapat nilai paling jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. Tiga puluh tahun kemudian, si guru masih tetap mengajar di sekolah dasar itu. Suatu hari, ia mengajak murid-muridnya belajar sambil berwisata ke sebuah kebun buah di atas bukit yang sangat terkenal. Kebun buah itu berada di desa tetangga, tidak seberapa jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sesampai di kebun buah yang luas dan indah itu, si guru dan murid-muridnya berdecak kagum. Kebun buah itu ternyata dilengkapi dengan sebuah taman bunga yang luas, dikelilingi pepohonan yang rindang nan sejuk. Yang lebih mengagumkan, di dekatnya terdapat sebuah rumah besar bak istana. Tinggi menjulang, megah, dan sangat indah arsitekturnya.

"Orang yang membangun istana ini pastilah orang yang sangat hebat... Mengapa baru sekarang aku tahu ada tempat seindah ini...," gumam si guru terkagum-kagum.

Tiba-tiba terdengar jawaban. "Bukan orang hebat yang membangun rumah ini.... hanya seorang murid bandel yang berani bermimpi punya cita-cita yang besar. Pasti, yang lebih hebat adalah guru yang duiu mendidik bocah bandel itu... Mari masuk ke dalam rumah. Kita nikmati teh dan buah-buahan terbaik dari kebun ini...," uiar si pemilik rumah itu dengan ramah.

Mendengar ucapan itu, mendadak si guru terpana dan teringat siapa yang berdiri di depannya. Dia adalah si murid kecil yang keras kepala yang mendapat nilai jelek waktu itu. Sekarang dia telah menjelma menjadi pengusaha yang sangat sukses. Matanya berkaca-kaca, merasa bersyukur sekaligus menahan malu karena 30 tahun yang lalu dirinya melecehkan cita-cita anak itu.

Pembaca yang budiman,
Bila kita mau menyadari dan meneliti dengan cermat, sebenarnya banyak prestasi spektakuler dari abad sebelum masehi sampai abad milenium ini. Semuanya lahir dan dimulai dari sebuah embrio, yaitu berani mimpi!

Karena impianlah sebuah pesawat terbang tercipta.
Karena impianlah kita bisa menikmati kecanggihan komputer.
Karena impianlah kita bisa berkomunikasi dengan telepon tanpa kabel.
Karena impian pula kehidupan kita bisa kita ubah menjadi lebih berkualitas.

Tentu, untuk merealisasikan setiap impian ini, kita membutuhkan kekuatan yang fain. Kekuatan itu harus ditumbuhkembangkan dari dalam diri kita sendiri, yaitu berani mencoba, berani berjuang, berani gagal, dan terakhir berani sukses.

Seringkali terjadi, penghambat kesuksesan seseorang bukan disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Tetapi lebih karena tidak adanya cita-cita yang diyakini dengan kuat dan diperjuangkan dengan sikap pantang menyerah!

Bercerita tentang pengalaman saya sendiri, saat saya berani bermimpi menjadi seorang bintang film di Hong Kong karena saya merasa memiliki kepandaian kungfu, berwajah cukup tampan, dan bertubuh atletis. Dengan latar belakang keluarga miskin. pendidikan rendah, kerja sebagai karyawan toko dan salesman, tidak punya pengalaman, tapi bercita-cita jadi bintang film di luar negeri.

Bukankah itu hal yang tidak wajar menurut latar belakang saya? Banyak nada cemoohan dan kesangsian setiap kali orang mendengar impian saya itu. Sebagian sahabat tidak percaya dengan kemampuan saya dan menganggap angan-angan saya itu terlalu tinggi. Sebagian lagi khawatir kaiau keinginan saya itu bakal tidak tercapai. Mereka kasihan melihat saya akan kecewa atau frustasi. Namun akhirnya, dengan tekad membaja dan perjuangan keras, saya toh mampu mewujudkan mimpi menjadi bintang film Hong Kong.

Cemoohan atau kesangsian orang lain terhadap cita-cita yang tinggi sebenarnya juga selalu dihadapi oleh orang-orang besar di dunia ini. Tetapi orang-orang besar tidak pernah berhenti hanya karena ejekan atau kesangsian orang banyak atas impian-impian besarnya. Karena, bagi orang-orang besar yang bermental kaya, ejekan dan cemoohan adalah vitamin gratis yang justru mereka perlukan sebagai cambuk dan pemacu untuk berusaha lebih keras lagi.

Sebab itu, jika ada orang yang mengejek atau mencemooh mimpi-mimpi kita, jangan pernah berkecil hati. Hanya satu jawabannya, kuatkan tekad dan semangat, lalu berjuang dengan sekuat tenaga, dan buktikan bahwa kita mampu dan berhak untuk mendapatkan yang terbaik bagi hidup kita.

"Karena baik atau buruk yang telah kita berikan, itulah kelak yang akan kita dapatkan!"
Cerita ini diperoleh dari buku karya Andrie Wongso "16 Wisdom & Success" Semoga bisa menjadi bahan wacana yang menarik.

Berani Mimpi

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test