Asam Amino dapat mencegah hipotermia

http://ak.imgfarm.com/images/vicinio/dsp-images/scott.schaffer/asset1_3/1470673176507.png

Hubungan antara penggunaan asam amino dan proses termogenesis untuk mencegah terjadinya hipotermia sepertinya ada hubungannya, meskipun sampai saat ini belum diketahui secara jelas. Penelitian terus dilakukan untuk mengklarifikasi hal ini, termasuk hipotesis yang menyebutkan bahwa infus asam amino dapat menstimulasi berbagai hormon diantaranya Insulin dan Leptin selain dapat menambah energi yang mana hasil akhirnya akan menunjukkan efek termogenesis.

Sebelum penelitian dilakukan pada manusia, pernah diteliti dengan tujuan yang sama yaitu pada hewan, dimana hewan tikus yang dipakai dalam penelitian diberikan asam amino parenteral dan kemudian dilakukan operasi dan kemudian diamati dengan kalorimetri. Pemberian nutrisi asam amino parenteral pada hewan tikus, sepertinya terbukti dapat menginduksi proses termogenesis setelah tikus diinjeksikan secara intraperitonealnya dengan asam amino yang mengandung Leucin dan Glycine. Hingga pada kesimpulan akhir didapatkan bahwa pentingnya penggunaan asam amino Leucine untuk meningkatkan respon termogenesis.
Penelitian tentang efek asam amino terhadap peningkatan energi dan termogenesis mulai dilakukan pada manusia, yaitu dengan mengikutsertakan 24 pasien yang secara acak mendapatkan asam amino dengan perhitungan kalorinya sebesar 4 kJ·kg−1·h−1 yang dibandingkan dengan pemberian salin, dimana diinfuskan selama 2 jam operasi by pass arteri koroner dengan metode “off-pump”(OPCABS).

Pemeriksaan yang dilakukan selama pemberian asam amino adalah adrenalin dalam arteri, hormon tiroid, insulin dan leptin yang diperiksa pada menit ke 5 sejak dimulainya operasi, konsumsi Oksigen juga dilakukan mengukuran 3 jam setelah infus diberikan.

Hasil yang didapat menunjukkan bahwa pemberian asam amino mampu memelihara termperatur tubuh selama operasi dengan metode OPCABS. Efek ini ada hubungannya dengan peningkatan konsumsi Oksigen yang mana sangat bergantung dengan peningkatan denyut jantung. Pemberian asam amino secara infus menstimulasi hormon Insulin dan Leptin dimana dari hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kadar insulin meningkat secara cepat dalam 2 jam setelah dimulainya pemberian infus, begitu juga dengan hormon leptin juga mengalami peningkatan secara bertahap lebih dari 6 jam sejak pemberian infus.

Pemberian asam amino sepertinya memberikan makna dalam meningkatkan temperatur tubuh dan memenuhi kebutuhan Oksigen selama operasi, dan hormon Insulin serta Leptin sepertinya juga bisa dihasilkan sebagai repson dari pemberian asam amino. Asam amino yang diberikan secara infus dapat mengkontribusi respon termogenik selama operasi.

Penelitian mengenai peranan asam amino untuk meningkatkan termogenesis dan pengeluaran energi juga pernah diteliti di Turki, dimana penelitian ini menggunakan 24 pasien di ICU dan pasien yang ikut serta dinyatakan telah mengalami “brain dead” dan semua pasien menggunakan ventilator. Penelitian ini sengaja dilakukan untuk menghitung pengeluaran energi yang dikalkulasi dengan rumus Harris & Benedict untuk semua pasien. Semua pasien diberikan standart nutrisi yang telah ditetapkan yaitu dengan pemberian asam amino dengan “infusion pump”, pemberian nutrisi enteral diberikan setelah nutrisi parenteral selama 4 jam selesai. Komposisi nutisi Asam Amino yang diberikan adalah asam amino rantai cabang (BCAA). Dari hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa efek termogenesis dari asam amino dapat ditiadakan jika pasien mengalami “brain dead”, jadi bagaimanapun juga efek termogenesis dan pengeluaran energi dari penggunaan asam amino masih membutuhkan respon dari susunan saraf pusat.

Asam Amino dapat mencegah hipotermia

0 Comments

0 comments:

Posting Komentar test